| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.08450 | -0.40% |
GBPUSD | 1.23250 | -0.25% |
AUDUSD | 0.66790 | -0.09% |
NZDUSD | 0.62480 | -0.38% |
USDJPY | 132.970 | 0.05% |
USDCHF | 0.91460 | 0.24% |
USDCAD | 1.35170 | -0.06% |
GOLDUD | 1,970.200 | -0.57% |
COFU | 80.10 | -0.19% |
USD/IDR | 14,980 | 0.13% |
Senin, 03 April 2023 - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak bullish di dukung oleh sentimen positif pasca pengumuman OPEC+ untuk memangkas produksi lebih lanjut dalam upaya mendukung stabilitas pasar.
OPEC dan sekutunya pada hari Minggu mengumumkan pengurangan produksi tambahan sekitar 1.66 juta bph yang akan berlaku mulai Mei hingga akhir tahun 2023. Sembilan anggota OPEC+ berkomitmen dalam pemangkasan tambahan tersebut, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia yang masing-masing berjanji akan mengurangi produksi sebesar 500 ribu bph, kemudian disusul oleh UEA, Irak, Kuwait, Oman, Algeria, Gabon, dan Kazakhstan. Sebelumnya, aliansi negara produsen itu telah sepakat untuk memangkas sebesar 2 juta bph hingga bulan Desember 2023. Dengan adanya keputusan terbaru tersebut, maka OPEC+ akan mengurangi produksi menjadi 3.66 juta bph atau setara dengan 3.7 persen dari pasokan minyak di pasar global.
Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Goldman Sachs pada hari Minggu merevisi turun perkiraan produksi minyak OPEC+ tahun 2023 sebesar 1.1 juta bph, dan menaikkan perkiraan harga minyak jenis Brent menjadi $95 dan $100 per barel masing-masing pada tahun 2023 dan 2024. Goldman optimis bahwa pengurangan produksi dari OPEC dan sekutunya dapat mendorong kenaikan harga minyak global sebesar 7 persen.
Sementara itu, AS melihat langkah yang diambil oleh OPEC+ tersebut tidak bijaksana dan tidak disarankan mengingat ketidakpastian pasar saat ini, ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC) AS pada hari Minggu. NSC juga menambahkan bahwa AS akan terus bekerja sama dengan semua produsen dan konsumen untuk memastikan pasar energi mendukung pertumbuhan ekonomi dan menurunkan harga untuk konsumen AS.
Dari wilayah Kurdistan dilaporkan bahwa Pemerintah Irak dan Kurdistan pada hari Minggu telah mencapai kesepakatan awal untuk memulai kembali ekspor minyak di minggu ini, setelah sebelumnya terhenti pada 25 Maret pasca Irak memenangkan tuntutan arbitrase terhadap Turki. Meskipun untuk memulai kembali aliran pasokan minyak dari wilayah semi-otonom Kurdistan Irak masih memerlukan persetujuan dari Turki, namun berita tersebut meredupkan kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut di wilayah yang berkontribusi terhadap sekitar 0.5% dari pasokan minyak global.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $76 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
20:45 | USA - S&P Global Manufacturing PMI Final |
| 49.3 | 47.3 |
21:00 | USA - ISM Manufacturing PMI |
| 47.5 | 47.7 |