Home
>
News
>
Publication
>
Krisis Ukraina Berpotensi Berakhir Lebih Cepat, Minyak Merosot Ke Bawah $100 per Barel
Krisis Ukraina Berpotensi Berakhir Lebih Cepat, Minyak Merosot Ke Bawah $100 per Barel
Wednesday, 16 March 2022

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.09540

0.16%

GBPUSD

1.30380

0.10%

AUDUSD

0.71950

0.10%

NZDUSD

0.67690

-0.10%

USDJPY

118.290

-0.04%

USDCHF

0.94090

-0.14%

USDCAD

1.27650

-0.05%

GOLDUD

1917.800

0.18%

COFU

95.23

2.40%

USD/IDR

14285

0.18%

Fokus Crude Oil:

  1. Pembicaraan damai lebih realistis tetapi butuh lebih banyak waktu, ungkap Presiden Ukraina.
  2. Saudi dan China berencana rubah kuotasi harga minyak dari dolar menjadi yuan.

***************************************************************

Rabu, 16 Maret 2022 - Meningkatnya harapan bahwa krisis Ukraina akan berakhir lebih cepat mendorong harga minyak turun ke bawah level $100 per barel. Meski demikian, potensi memanasnya tensi antara Rusia dengan AS serta sekutunya, dan ditambah rencana perubahan kuotasi jual minyak menjadi yuan memberikan dukungan pada harga minyak.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada hari Rabu bahwa pembicaraan damai terdengar lebih realistis tetapi lebih banyak waktu diperlukan. Komentar Zelenskiy tersebut semakin meningkatkan optimisme bahwa krisis Ukraina berpotensi untuk berakhir lebih cepat, kemungkinan pada Mei sebagaimana yang diutarakan sebelumnya oleh penasihat presiden Ukraina.

Di tengah isyarat positif pembicaraan damai antara Rusia dengan Ukraina tersebut, NATO dilaporkan berencana untuk menambah pasukan dan pertahanan rudal di Eropa timur, ungkap para pejabat dan diplomat NATO pada hari Rabu. Presiden AS Joe Biden dijadwalkan akan menghadiri pertemuan dengan para pemimpin NATO pada 24 Maret mendatang. Selain itu, Biden diperkirakan akan mengumumkan bantuan keamanan tambahan senilai $800 juta ke Ukraina pada Rabu, kata seorang pejabat Gedung Putih.

Turut mendukung pergerakan harga minyak, pejabat Saudi dan China sedang dalam pembicaraan untuk menentukan harga atas beberapa penjualan minyak negara Teluk itu dalam yuan daripada dolar atau euro, ungkap sumber yang dikutip oleh The Wall Street Journal pada hari Selasa. Adapun untuk wacana perubahan kuotasi harga minyak tersebut telah dibahas sejak enam tahun lalu, namun di tahun 2022 ini semakin meningkat intensitasnya. Saudi sendiri mulai menggunakan dolar untuk perdagangan minyaknya sejak pertengahan 1970-an. Meskipun nantinya Saudi tetap mempertahankan dolar untuk sebagian besar perdagangan minyaknya, namun sinyal pergeseran oleh Saudi ini berpotensi memicu efek domino bagi pemasok minyak utama China lainnya, seperti Rusia, Angola dan Irak. Hal ini sekaligus mengindikasikan akan memudarnya kekuatan AS dalam mata rantai pasar minyak global yang saat ini hampir 80% kontrak penjualannya menggunakan dolar.

Sementara itu, dari pasar energi AS dilaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 3.75 juta barel, ungkap data dari grup industri American Petroleum Institute (API). Stok bensin dilaporkan turun sebesar 3.79 juta barel. Untuk angka resmi versi pemerintah akan dirilis Rabu malam oleh Energy Information Administration (EIA).

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $90 per barel.

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

22:30

USA - EIA Crude Oil Domestic Production

 

 

11.6M

22:30

USA - EIA Crude Oil Stocks Change

 

-1.375M

-1.863M

22:30

USA - EIA Gasoline Stocks Change

 

-1.579M

-1.405M

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788