Home
>
News
>
Publication
>
Kenaikan Inflasi AS Batasi Pergerakan Harga Minyak Lebih Lanjut
Kenaikan Inflasi AS Batasi Pergerakan Harga Minyak Lebih Lanjut
Friday, 12 November 2021

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.14520

-0.14%

GBPUSD

1.33710

-0.13%

AUDUSD

0.72970

-0.25%

NZDUSD

0.70160

-0.27%

USDJPY

114.050

0.18%

USDCHF

0.92040

0.22%

USDCAD

1.25770

0.14%

GOLDUD

1861.610

-0.20%

COFR

1157649

-0.04%

USD/IDR

14255

0.04%

Fokus Crude Oil:

  1. OPEC merevisi turun perkiraan permintaan minyak global tahun 2021.
  2. Irak mengatakan OPEC+ akan fokus pada kestabilan pasokan minyak, bukan harga.


Jumat, 12 November 2021 - Penegasan sikap OPEC+ untuk mempertahankan kebijakan produksinya memberikan dukungan pada harga minyak. Meski demikian, peningkatan inflasi di AS yang turut mendorong kenaikan kurs dolar AS, membatasi pergerakan harga minyak lebih lanjut.

Dalam Laporan Pasar Minyak Bulanan yang dirilis hari Kamis, OPEC merevisi kembali permintaan minyak global untuk tahun 2021, turun sebesar 160 ribu bph menjadi rata-rata 96.4 juta bph, dan untuk kuartal IV 2021 dipangkas turun 330 ribu bph. Alasan utama pemangkasan tersebut dipicu oleh permintaan yang lebih lambat dari yang diantisipasi dari China dan India pada kuartal ketiga. Dengan adanya pemangkasan tersebut juga mengindikasikan sikap OPEC+ untuk tidak menambah lebih banyak pasokan ke pasar untuk setidaknya hingga akhir tahun ini. Sementara untuk perkiraan permintaan tahun depan masih tidak berubah dari proyeksi yang dirilis bulan lalu yaitu tumbuh sebesar 4.2 juta bph menjadi 100.6 juta bph.

Turut menegaskan bahwa OPEC+ akan tetap mempertahankan kebijakan produksinya, Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar pada hari Kamis mengatakan bahwa koalisi 23 negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ hanya akan fokus untuk memastikan pasokan minyak mentah yang stabil ke pasar global dan tidak menargetkan harga tertentu. Jabbar juga menambahkan bahwa Irak berencana mengekspor 3.2 juta bph pada November ini.

Sementara itu, kenaikan inflasi di AS turut memicu mata uang dolar naik ke level tertinggi hampir 16 bulan terhadap mata uang utama lainnya pada hari Kamis. Situasi tersebut mendorong harapan bahwa bank sentral AS akan memajukan rencananya untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menjinakkan inflasi. Di samping itu, pasar juga menanti keputusan final dari Presiden Joe Biden terkait rencananya untuk merilis minyak dari Cadangan Minyak Strategis negara untuk meredam lonjakan harga lebih lanjut.

Untuk indikator dalam waktu dekat yang menjadi fokus pasar adalah laporan mingguan hitungan jumlah rig AS yang akan dirilis oleh perusahaan layanan jasa Baker Hughes pada akhir pekan ini.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,180,000 - 1,200,000 per barel serta kisaran Support di IDR 1,140,000 - 1,120,000 per barel. 

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

22:00

USA - JOLTS Job Opening

-

10.02M

10.44M

22:00

USA - Prelim UoM Consumer Sentiment

-

72.5

71.7

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788