Home
>
News
>
Publication
>
GBPUSD Melemah Jelang Data Inflasi AS
GBPUSD Melemah Jelang Data Inflasi AS
Friday, 10 April 2026

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.1702

-0.10%

GBPUSD

1.3433

-0.07%

AUDUSD

0.7080

-0.06%

NZDUSD

0.5862

-0.17%

USDJPY

158.95

0.09%

USDCHF

0.7904

0.05%

USDCAD

1.3844

-0.15%

GOLDUD

4772.62

0.04%

USD/IDR

17,030

0.18%

Fokus:

  1. Sentimen Risk-On Mereda Redanya gencatan senjata mengurangi tekanan pada USD dan menekan penguatan GBP.
  2. Ekspektasi Inflasi AS Inflasi tinggi memperkuat ekspektasi kebijakan ketat, dengan CPI jadi penentu arah USD.

GBPUSD
Jumat, 10 April 2026 – Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 1.3424 pada perdagangan hari Jumat, setelah sebelumnya sempat mencatat penguatan pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring mulai meredanya dorongan positif dari sentimen gencatan senjata antara AS dan Iran, yang sebelumnya sempat menekan Dolar AS.

Meskipun Poundsterling telah menguat cukup signifikan sejak awal April, pergerakan terbaru menunjukkan bahwa momentum penguatan mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar kini cenderung lebih berhati-hati, terutama di tengah ketidakpastian terkait keberlanjutan kesepakatan geopolitik yang masih rentan berubah.

Dari sisi fundamental, data inflasi AS melalui indikator Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan angka yang tetap tinggi dan berada di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi di AS masih persisten, sehingga berpotensi menahan langkah pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve dan mendukung penguatan Dolar AS.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan menjadi katalis utama pergerakan selanjutnya. Jika inflasi inti meningkat lebih tinggi dari perkiraan, maka Dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat membuka ruang bagi penguatan kembali Poundsterling. Support GBPUSD berada di area 1.3380, sementara resistance berada di area 1.3480.

EURUSD - Pasangan mata uang ini bergerak melemah ke kisaran 1.1690 pada sesi Asia awal hari Jumat, seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap keberlanjutan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. Ketidakpastian ini membuat euro tertekan terhadap Dolar AS, dengan fokus utama pasar tertuju pada rilis data inflasi AS (CPI) bulan Maret yang diperkirakan akan menjadi katalis pergerakan berikutnya.

Ketegangan geopolitik masih membayangi setelah pernyataan dari Esmaeil Baghaei yang menegaskan bahwa negosiasi damai bergantung pada kepatuhan AS terhadap komitmen gencatan senjata. Di sisi lain, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel akan tetap melanjutkan operasi militer terhadap Hezbollah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven dan menjadi tekanan bagi EURUSD.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan European Central Bank yang cenderung hawkish, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi berlanjut. Data CPI AS diperkirakan meningkat menjadi 3,3% secara tahunan, didorong oleh lonjakan harga minyak. Jika realisasi inflasi lebih rendah dari ekspektasi, hal ini dapat menekan Dolar AS dan memberikan ruang penguatan bagi euro. Support EURUSD berada di area 1.1650 sementara resistance berada di area 1.1720.

AUDUSD - Pasangan mata uang ini menghentikan tren penguatannya selama empat hari dan diperdagangkan di kisaran 0.7076 pada sesi Asia hari Jumat, meskipun secara mingguan masih mencatat kenaikan lebih dari 2,5%. Pergerakan pasangan ini cenderung tertahan setelah rilis data inflasi China yang lebih lemah dari ekspektasi, di mana indeks harga konsumen (CPI) tahunan naik 0,9% YoY, di bawah perkiraan 1,2%, serta turun -0,7% secara bulanan. Mengingat hubungan dagang yang erat antara Australia dan China, data ini memberikan tekanan terhadap Dolar Australia. Fokus pasar kini beralih ke rilis data inflasi AS (CPI) yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan selanjutnya.

Di sisi lain, AUDUSD juga tertekan oleh penguatan Dolar AS yang didukung permintaan sebagai aset safe haven, seiring kembali meningkatnya ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran. Ketegangan geopolitik, termasuk gangguan di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan risiko inflasi global dan memengaruhi ekspektasi suku bunga. Meskipun sikap hawkish Reserve Bank of Australia memberikan dukungan, arah pergerakan pasangan ini tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan sentimen risiko global. Support AUDUSD berada di area 0.7040, sementara resistance berada di area 0.7100.

NZDUSD - Pasangan mata uang ini melemah ke kisaran 0.5852 pada sesi Asia hari Jumat, mencerminkan tekanan terhadap Dolar Selandia Baru setelah rilis data ekonomi China yang beragam. Inflasi konsumen (CPI) China tercatat naik 1,0% YoY pada Maret, lebih rendah dari ekspektasi, serta mengalami kontraksi -0,7% secara bulanan. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) menunjukkan perbaikan, namun secara keseluruhan data tersebut belum cukup kuat untuk memberikan dorongan signifikan bagi NZD yang sensitif terhadap ekonomi China. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data inflasi AS yang menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.

Di sisi lain, Dolar AS tetap mendapatkan dukungan dari meningkatnya permintaan sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang berlanjut serta dinamika negosiasi antara AS dan Iran meningkatkan volatilitas pasar dan menopang permintaan terhadap USD. Selain itu, ekspektasi kenaikan inflasi AS akibat lonjakan harga energi turut memperkuat prospek USD dalam jangka pendek, meskipun hasil data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi membatasi penguatan tersebut. Support NZDUSD berada di area 0.5820, sementara resistance berada di area 0.5880.

USDJPY - Pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 159.10 pada awal sesi hari Jumat, mencatat kenaikan tipis seiring respons pasar yang terbatas terhadap pernyataan pejabat Bank of Japan (BoJ). Wakil Gubernur BoJ, Ryozo Himino, menegaskan bahwa perekonomian Jepang tidak berada dalam kondisi stagflasi, meskipun tetap ada risiko dari konflik geopolitik global, khususnya di Timur Tengah. Pernyataan ini tidak memberikan dorongan signifikan bagi Yen, sehingga pasangan mata uang ini cenderung stabil dengan bias menguat.

Di sisi lain, BoJ menekankan pendekatan hati-hati dalam kebijakan moneternya, dengan tetap memantau perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Risiko konflik berkepanjangan yang berpotensi menekan pertumbuhan sekaligus meningkatkan inflasi menjadi dilema tersendiri bagi bank sentral Jepang. Namun, pasar tampaknya lebih fokus pada dinamika Dolar AS serta sentimen global, sehingga pergerakan USDJPY masih cenderung dipengaruhi oleh faktor eksternal dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Support USDJPY berada di area 158.50, sementara resistance berada di area 160.00.

USDCHF - Pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 0.7908 pada sesi Asia hari Jumat, mencerminkan pelemahan Dolar AS terhadap Franc Swiss seiring meningkatnya sentimen risk-on di pasar global. Optimisme ini dipicu oleh harapan keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran, yang mengurangi permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven. Di sisi lain, Franc Swiss tetap mendapat dukungan sebagai mata uang defensif, terutama di tengah ketidakpastian yang masih membayangi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Support USDCHF berada di area 0.7870, sementara resistance berada di area 0.7950.

USDCAD - Dolar Kanada menguat terhadap Dolar AS, dengan pasangan USDCAD turun ke kisaran 1.3823 pada sesi perdagangan, didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi bertahannya gencatan senjata di Timur Tengah. Sentimen ini mendorong penguatan mata uang berisiko, termasuk CAD, seiring melemahnya permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven. Namun, penguatan ini masih tergolong terbatas, karena pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kembali memanasnya konflik yang dapat membalikkan arah pergerakan.

Di sisi lain, harga minyak—sebagai komoditas utama ekspor Kanada—mengalami kenaikan, memberikan dukungan tambahan bagi CAD. Meski demikian, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz masih membayangi, yang dapat memicu volatilitas. Bank of Canada juga menilai bahwa lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek, sementara dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih belum pasti. Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan Kanada untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi domestik. Support USDCAD berada di area 1.3800, sementara resistance berada di area 1.3850.



DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Pair

Data

Actual

Ekspektasi

Sebelumnya

6:50am

JPY

PPI y/y

2.60%

2.40%

2.10%

1:00pm

EUR

German Final CPI m/m

 

1.10%

1.10%

7:30pm

CAD

Employment Change

 

14.5K

-83.9K

7:30pm

CAD

Unemployment Rate

 

6.80%

6.70%

7:30pm

USD

Core CPI m/m

 

0.30%

0.20%

7:30pm

USD

CPI m/m

 

1.00%

0.30%

7:30pm

USD

CPI y/y

 

3.40%

2.40%

9:00pm

USD

Prelim UoM Consumer Sentiment

 

51.6

53.3

9:00pm

USD

Prelim UoM Inflation Expectations

 

 

3.80%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Forex Daily Newsletter

Licensed and supervised by
Member of
Certified by
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Jl. M.H. Thamrin No.3 7th Floor, RT.11/RW.2, Gambir, Central Jakarta City, Jakarta 10110
+62 21 4050 7788