Home
>
News
>
Publication
>
Environment, Social and Governance Derivatif: Solusi Emisi Karbon
Environment, Social and Governance Derivatif: Solusi Emisi Karbon
Thursday, 19 August 2021

Girta Yoga

Investasi Masa Depan Emisi Karbon Lewat Derivatif ESG

Sustainable investing is the buzzword in modern investment management.

Investasi berkelanjutan kian menjadi fokus perhatian investor, khususnya bagi investor generasi milenial yang lebih berkomitmen pada isu berkelanjutan dan cenderung membuat pilihan yang lebih sadar lingkungan dibanding generasi sebelumnya.

Mengutip laporan dari Global Sustainable Investment Alliance disebutkan bahwa investasi berkelanjutan mencapai $30.7 triliun pada awal 2018, yang menunjukkan nilai investasi yang sangat besar dan sekaligus menandai peningkatan sebesar 34% dalam dua tahun – dan lebih dari dua kali lipat jumlah pada tahun 2012.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa semakin banyak investor yang menganggap investasi berkelanjutan sebagai isu serius, karena kian banyaknya investor yang mengalihkan aset dari portofolio konvensional menjadi aset yang dikelola berdasarkan kriteria Environment, Social and Governance (ESG).

Perkembangan Investasi Berkelanjutan (Sumber: UN)

Istilah ESG pertama kali disebutkan pada tahun 2006 dalam laporan PBB mengenai “Principles for Responsible Investment (PRI)”. Konsep ESG sendiri mencakup banyak dimensi, mulai dari isu lingkungan - termasuk, misalnya, emisi dan pengelolaan limbah, kinerja sosial (termasuk keragaman tenaga kerja dan keterlibatan masyarakat), dan langkah-langkah tata kelola yang menggabungkan keterlibatan pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan.

Mengingat luasnya isu yang tercakup dalam ESG, maka pemberian skor ESG juga dapat berbeda, tergantung dari metodologi penilaian masing-masing perusahaan penyedia data ESG seperti Bloomberg, Thomson Reuters (Refinitiv), Dow Jones, Morgan Stanley dan lainnya.

Skor Penentuan ESG (Sumber: Refinitiv)

Transaksi Spot Produk Derivatif ESG

Dalam proses transisi menuju investasi berkelanjutan tentunya akan membutuhkan sejumlah besar dana jangka panjang, dalam hal ini pasar derivatif akan memainkan peranan penting baik dalam penyediaan dana tersebut maupun dalam hal mengelola risiko yang terkait dengan investasi berkelanjutan.

Serangkaian produk derivatif terkait investasi keberlanjutan telah diluncurkan selama beberapa tahun terakhir, umumnya dengan menambahkan komponen penetapan harga ESG ke dalam instrumen lindung nilai konvensional yang telah dikenal di pasar.

Alokasi Dana ESG (Sumber: UBS Research, 2019)

Sustainability Improvement Derivative (SID) merupakan produk derivatif ESG pertama yang diluncurkan pada Agustus 2019 oleh ING, bank global yang berbasis di Eropa. SID adalah produk swap suku bunga yang melindungi risiko suku bunga dari pembangunan salah satu fasilitas Floating Production Storage and Off-loading milik SBM Offshore (pemasok global solusi produksi terapung untuk industri energi lepas pantai).

Di bulan September 2019, bank asal Prancis, Société Générale juga meluncurkan produk derivatif ESG berupa swap mata uang untuk pembangunan berkelanjutan milik Enel, perusahaan listrik dan gas asal Italia. Swap ini memungkinkan Enel untuk melindungi eksposurnya terhadap risiko nilai tukar euro/dolar dan suku bunga yang diciptakan oleh denominasi yang berbeda dari pembayaran obligasi (dolar AS) dan sumber pembayaran (euro).

Menyusul, BNP Paribas pada Oktober 2019 mengeluarkan produk derivatif ESG berupa kontrak mata uang senilai EUR 174 juta dengan pihak Siemens Gamesa, pemasok solusi tenaga angin. Melalui kontrak ini, Siemens Gamesa dapat melindungi eksposur mata uang dari penjualan turbin angin lepas pantai di Taiwan dan untuk berkontribusi pada target UNSDG terkait dengan aksi iklim dan energi yang terjangkau dan bersih.

Selain ketiga produk derivatif ESG yang disebut diatas, masih banyak lagi produk derivatif ESG keuangan yang umumnya dilakukan langsung antara perusahaan berbasis investasi berkelanjutan dengan pihak perbankan.

Transaksi Produk Derivatif ESG di Bursa Berjangka

Sejalan dengan semakin meningkatnya tren investasi berkelanjutan ini, secara perlahan juga mendorong munculnya permintaan dari para investor terkait kebutuhan lindung nilai dan juga fleksibilitas dalam mengelola dana ESG. Secara umum, produk derivatif ESG dalam bentuk kontrak berjangka dapat menjadi instrumen yang tepat dalam mewujudkan kebutuhan tersebut.

Produk berjangka ESG pertama tercatat diluncurkan pada Oktober 2018 oleh bursa Nasdaq. Produk yang diberi nama OMXS30 ESG ini merupakan kontrak berjangka berdasarkan indeks OMX Stockholm 30, yang melacak saham teratas di Swedia - varian ESG hanya mengecualikan satu saham, Swedish Match, sebuah perusahaan tembakau. Sejak diluncurkan, lebih dari 1 juta kontrak berjangka OMXS30 ESG telah berpindah tangan, dan pada 1 Oktober minat terbuka mencapai 28,365 kontrak, setara dengan nilai SEK 4.6 juta ($469 juta).

Bursa Eurex menyusul pada Februari 2019 dengan meluncurkan 3 kontrak indeks ESG yaitu Euro Stoxx 50 low carbon index (yang didasarkan pada Euro Stoxx 50, tolok ukur terkemuka untuk saham terbesar dan paling likuid di Zona Euro), Stoxx Europe 600 ESG-X index (yang didasarkan pada Stoxx Europe 600, salah satu indeks utama benua Eropa), dan Stoxx Europe Climate Impact Index (yang mencakup 260 perusahaan Eropa yang memimpin dalam hal perubahan iklim).

Pada bulan Oktober, Eurex memperluas kompleks ESG-nya dengan menambahkan Stoxx Europe ESG Leaders Select 30 Index. Bursa Eurex menjadi bursa terdepan di dunia yang memimpin dalam peluncuran derivatif ESG, hal ini juga sejalan dengan kebijakan mandat ESG di Eropa.

Tidak mau ketinggalan, bursa terkemuka asal AS, CME Group juga turut meluncurkan kontrak berjangka ESG pertamanya pada bulan November 2019. Kontrak yang diberi nama S&P 500 ESG tersebut merupakan kontrak yang berdasarkan indeks S&P 500, acuan terkemuka untuk pasar saham AS. S&P Global selaku penyedia indeks ini melakukan analisa terhadap perusahaan – perusahaan yang dimasukkan dalam perhitungan indeks dan mengeliminasi perusahaan yang gagal mendapatkan skor S&P Dow Jones ESG.

Doing the right thing is important, but the path to a sustainable future for the global economy depends on following the money, too.

Bursa Intercontinental Exchange atau yang dikenal dengan ICE, juga ikut meramaikan pasar derivatif ESG dengan menggandeng Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan meluncurkan serangkaian indeks berjangka ESG pada bulan November 2019, seperti MSCI Emerging Markets ESG Leaders Index, MSCI Europe ESG Leaders, MSCI USA Climate Change, MSCI USA ESG Leaders , dan MSCI World ESG Leaders. 

Meskipun investasi ESG ini awalnya lebih maju di Eropa dibanding AS karena beberapa faktor pendukung, seperti undang-undang lingkungan Uni Eropa, kebijakan investasi dana berdaulat dan institusional, dan sentimen investor umum di Eropa.

Namun, AS mampu mengejar laju pertumbuhan tersebut. Mengutip data yang diterbitkan oleh Morningstar (perusahaan jasa keuangan asal AS yang menyediakan riset investasi dan manajemen investasi) reksa dana berbasis ESG di AS mampu menarik investasi senilai $8.9 miliar pada paruh pertama tahun 2019, melebihi nilai investasi yang dikumpulkan sepanjang tahun 2018 sebesar $5.5 miliar.

Pertumbuhan Pasar Derivatif ESG Asia

Perdagangan produk derivatif ESG di Asia tercatat mulai dilakukan sejak tahun 2014, dimana bursa Japan Exchange Group sebagai pelopor tren ESG di Asia ini meluncurkan kontrak berjangka indeks JPX-Nikkei 400, yang terdiri dari saham-saham yang dipilih berdasarkan pengembalian ekuitas yang tinggi dan kualitas proses tata kelola perusahaan mereka.

Kontrak tersebut sangat sukses, dengan total volume mencapai 6.7 juta kontrak yang diperdagangkan sepanjang tahun 2019. Mengutip laporan dari Global Sustainable Investment Alliance, nilai investasi ESG di Jepang telah mengalami peningkatan hingga empat kali lipat antara 2016 dan 2018, di mana investasi ESG sebagian besar diadopsi pada pengelolaan dana pensiun.

China juga turut mengadopsi tren ESG ini, dimana pada tahun 2018, Komisi Regulasi Sekuritas China, regulator pasar utama negara itu, merevisi kode tata kelola perusahaan untuk perusahaan yang terdaftar. Dalam revisi tersebut mencakup penekanan yang lebih besar pada penerapan ESG, akuntabilitas dewan direksi, dan pentingnya keberagaman, di antara bidang-bidang lainnya.

Transaksi Kontrak Derivatif di Bursa (Sumber: World Federation of Exchanges)

Terus meningkatnya laju investasi berkelanjutan, khususnya permintaan instrumen pasif yang memungkinkan integrasi ESG ke dalam portofolio investasi dapat menjadikan Asia sebagai potensi pasar derivatif ESG yang jauh lebih menjanjikan bagi investor dibanding Eropa maupun AS di tahun-tahun mendatang, mengingat kawasan Asia-Pasifik berkontribusi sebesar 42.5% dari total volume transaksi kontrak derivatif di bursa secara global (World Federation of Exchanges, 2019).

Tentang Pasar Karbon
Mekanisme perdagangan kredit karbon melalui bursa dapat membantu mewujudkan target kebijakan iklim dan menekan biaya dalam mencapai target pengurangan emisi Indonesia.
Member of
© 2020. Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 3002 7788