| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 0.96980 | -0.07% |
GBPUSD | 1.10540 | -0.01% |
AUDUSD | 0.63030 | -0.41% |
NZDUSD | 0.55710 | -0.31% |
USDJPY | 145.670 | 0.00% |
USDCHF | 0.99940 | 0.09% |
USDCAD | 1.37740 | 0.26% |
GOLDUD | 1667.000 | -0.05% |
COFU | 91.14 | -0.43% |
USD/IDR | 15325 | 0.16% |
Selasa, 11 Oktober 2022 - Pergerakan harga minyak pagi ini terpantau bergerak lesu dibebani oleh sentimen dari tanda-tanda kembali melonjaknya kasus Covid di China yang memicu kekhawatiran akan melemahnya permintaan minyak global. Meski demikian, sinyal memanasnya tensi AS - Saudi, dan ketegangan geopolitik di Iran membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Kasus Covid-19 di China kembali menunjukkan peningkatan jelang berlangsungnya kongres utama di negara konsumen minyak terbesar kedua dunia tersebut. Mengutip dari data yang dirilis oleh otoritas kesehatan per 9 Oktober, jumlah kasus di seluruh China mencapai 1,939 kasus, level tertinggi sejak 20 Agustus, yang sekaligus memicu kekhawatiran akan melambatnya permintaan minyak global. Ribuan kasus infeksi baru yang dipicu oleh sub-varian Omicron BF.7 telah dilaporkan di Mongolia Dalam sejak awal Oktober, yang sekaligus menjadikan wilayah tersebut menjadi pusat Covid terbaru di China.
Masih dari China, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional pada hari Senin mengumumkan akan mempertahankan harga bensin dan solar domestik tidak berubah karena perubahan harga rata-rata minyak global dalam 10 hari kerja kurang dari 50 yuan. Selain itu, Komisi juga mendesak tiga perusahaan minyak besar milik negara, yaitu China National Petroleum Corporation, China Petrochemical Corporation, dan China National Offshore Oil Corporation, untuk memastikan pasokan produk minyak dan penerapan kebijakan harga negara.
Sementara itu, Ketua Demokrat dari Senat AS bagian Komite Hubungan Luar Negeri pada hari Senin mendesak agar AS membekukan kerja sama dengan Arab Saudi, termasuk sebagian besar penjualan senjata, karena Saudi dianggap telah membantu menanggung perang Rusia di Ukraina setelah OPEC+ pekan lalu mengumumkan akan memangkas produksi minyak. Sinyal memanasnya tensi antara AS dengan Saudi berdampak positif terhadap pergerakan harga minyak karena berpotensi meningkatkan komitmen Saudi untuk melakukan pemangkasan produksi lebih lanjut.
Sentimen positif terhadap harga minyak datang dari aksi protes anti-pemerintah yang berlangsung di Iran pada hari Senin dilaporkan telah menyebar ke sektor energi vital negara itu dengan bergabungnya para pekerja di kilang minyak Abadan dan Kangan serta Proyek Petrokimia Bushehr ke dalam aksi tersebut. Situasi ketegangan yang melanda Iran itu memicu kekhawatiran akan membuat pasokan minyak Iran ke pasar global menjadi semakin ketat.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $93 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $87 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya |
17:00 | USA - NFIB Business Optimism Index |
| 91.2 | 91.8 |
21:00 | USA - IBD/TIPP Economic Optimism |
| 40.5 | 44.7 |
22:00 | USA - Consumer Inflation Expectations |
| 5.5% | 5.7% |