| Pembukaan | % Perubahan |
EURUSD | 1.13180 | 0.15% |
GBPUSD | 1.34820 | 0.12% |
AUDUSD | 0.72680 | -0.10% |
NZDUSD | 0.69980 | 0.30% |
USDJPY | 114.050 | -0.11% |
USDCHF | 0.92790 | -0.14% |
USDCAD | 1.26090 | 0.05% |
GOLDUD | 1865.970 | 0.18% |
COFR | 1102683 | -0.54% |
USD/IDR | 14230 | -0.04% |
Fokus Crude Oil:
Kamis, 18 November 2021 - Harga minyak pagi ini terpantau masih melanjutkan reli bearish dibebani oleh sinyal dari negara konsumen terbesar minyak untuk melepaskan cadangan minyak negara dalam upaya menurunkan lonjakan harga. Meski demikian, laporan stok minyak AS yang dirilis EIA memberikan dukungan pada harga minyak dan membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Presiden Joe Biden memasukkan permintaan pelepasan cadangan minyak sebagai bagian dari pembicaraan tentang kerja sama ekonomi antara AS dan China, ungkap South China Morning Post pada hari Rabu. Meski China menolak untuk mengomentari permintaan AS tersebut, namun Administrasi Cadangan Pangan dan Strategis Nasional pada hari Rabu mengatakan pihaknya sedang memikirkan rencana pelepasan cadangan minyak dan rinciannya akan diumumkan dalam situs web resmi milik biro cadangan negara China tersebut. Sebelumnya pada bulan September, pemerintah China telah melakukan lelang publik pertama atas cadangan minyak negara kepada sekelompok kilang domestik terpilih, disusul pernyataan pada awal November terkait pemanfaatan cadangan bahan bakar negara untuk menjinakkan harga solar dan bensin yang melonjak.
Selain China, AS juga telah membujuk beberapa negara konsumen minyak terbesar dunia seperti India, Jepang dan Korea Selatan dalam beberapa minggu terakhir untuk turut mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak negara sebagai upaya untuk menurunkan harga energi global.
Sementara untuk dukungan pada harga minyak datang dari laporan pasar minyak AS yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA). Dalam laporan tersebut menunjukkan secara mingguan stok minyak mentah dan bensin mengalami penurunan masing-masing sebesar 2.10 juta barel dan 708 ribu barel. Selain itu, dari sisi produksi juga dilaporkan mengalami penurunan ke level 11.4 juta barel dari posisi pekan lalu di level 11.5 juta barel. Laporan EIA tersebut mengindikasikan kondisi permintaan pasar yang sedang bullish.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,120,000 - 1,140,000 per barel serta kisaran Support di IDR 1,080,000 - 1,060,000 per barel.
Jam | Data | Aktual | Ekspektasi | Sebelumnya | |||||
20:30 | USA - Unemployment Claims | - | 260K | 267K | |||||
20:30 | USA - Philly Fed Manufacturing Index | - | 24.2 | 23.8 | |||||
22:00 | USA - CB Leading Index MoM | - | 0.8% | 0.2% | |||||