Home
>
News
>
Publication
>
Produksi Minyak Libya Kembali Terancam, Harga Turut Terangkat
Produksi Minyak Libya Kembali Terancam, Harga Turut Terangkat
Monday, 13 September 2021

Indikator Harga

 

Pembukaan

% Perubahan

EURUSD

1.18120

-0.08%

GBPUSD

1.38410

-0.01%

AUDUSD

0.73490

0.10%

NZDUSD

0.71060

0.03%

USDJPY

109.87000

0.05%

USDCHF

0.91750

0.12%

USDCAD

1.268

-0.06%

GOLDUD

1788.100

0.10%

COFR

1000072

0.54%

USD/IDR

14230

0.18%

Fokus Crude Oil:

  1. Perebutan kekuasaan politik di Libya ancam produksi minyak Libya kembali merosot.
  2. OPEC berpotensi memangkas prospek permintaan minyak tahun 2022 dalam laporan terbarunya.

Senin, 13 September 2021 - Mengawali pekan pagi ini, harga minyak terpantau berada pada tren bullish didukung oleh ancaman kembali merosotnya produksi minyak Libya di tengah kondisi produsen minyak di Teluk Meksiko AS yang saat ini masih berjuang untuk memulihkan produksi pasca hantaman Badai Ida. Meski demikian, sinyal OPEC untuk memangkas prospek permintaan minyak untuk tahun 2022 membatasi pergerakan harga minyak lebih lanjut.

Produksi minyak Libya berpotensi kembali merosot akibat perebutan kekuasaan politik di negara produsen minyak asal Afrika Utara itu. Seorang pejabat Libya mengatakan bahwa gangguan tersebut berisiko memangkas produksi hingga 800 ribu bph. Sebelumnya Libya telah berhasil menstabilkan produksi minyak hingga di atas 1.2 juta bph untuk sepanjang tahun ini, tiga kali lipat dari tingkat rata-rata produksi pada tahun 2020, setelah meredanya konflik internal yang melanda negara tersebut dalam waktu lama.

Turut mendukung harga minyak, sekitar tiga perempat atau 1.4 juta bph produksi minyak di lepas pantai Teluk Meksiko AS dilaporkan masih terhenti sejak Badai Ida melanda pada akhir Agustus lalu. Produsen minyak terbesar di Teluk Meksiko AS, Royal Dutch Shell Plc, pada hari Kamis membatalkan beberapa kargo ekspor karena kerusakan fasilitas lepas pantai, menandakan hilangnya energi akan berlanjut selama berminggu-minggu. Meski demikian, jumlah rig yang beroperasi di AS tumbuh dalam sepekan terakhir, ungkap penyedia layanan energi Baker Hughes, mengindikasikan produksi mungkin akan meningkat dalam beberapa minggu mendatang. 

Sementara itu, dalam waktu dekat fokus pasar akan tertuju pada laporan pasar minyak terbaru yang akan dirilis oleh OPEC. Dua sumber OPEC+ mengatakan bahwa OPEC kemungkinan akan merevisi turun perkiraan pertumbuhan permintaan minyak 2022 dalam laporan proyeksi pasokan dan permintaan minyak yang akan dirilis pada hari Senin. Untuk tahun 2021, OPEC memperkirakan permintaan minyak akan naik sebesar 5.95 juta bph, lebih tinggi dari angka IEA sebesar 5.3 juta bph, maupun perkiraan EIA sebesar 5 juta bph.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 1,020,000 - 1,040,000 per barel serta kisaran Support di IDR 985,000 - 965,000 per barel. 

DATA EKONOMI HARIAN

Jam

Data

Aktual

Ekspektasi

Sebelumnya

22:00
USA - Consumer Inflation Expectations
-
-
4.8%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter

Member of
© Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 3002 7788