Dalam dunia investasi, setiap instrumen pasti memiliki tingkat risiko dan peluang keuntungan yang berbeda-beda. Tidak jarang, investor mampu mendapatkan potensi imbal hasil yang tinggi dari investasi tertentu. Namun, di sisi lain, mereka juga harus bersiap menghadapi risiko kerugian yang tak kalah tingginya.
Prinsip "high risk, high return" memang berlaku dalam dunia investasi. Semakin tinggi risiko yang diambil, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Akan tetapi, tidak semua investor bersedia menerima risiko yang tinggi dalam berinvestasi. Ada kalangan investor yang lebih memilih untuk meminimalkan risiko, yang biasa disebut sebagai investor "risk averse".
Nah, apa sebenarnya yang dimaksud dengan risk aversion? Bagaimana cara kerjanya? Apa saja contoh produk investasi yang cocok untuk investor risk averse? Dan apa kelebihan serta kekurangan dari strategi investasi ini? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Risk Aversion?
Risk aversion atau penghindaran risiko adalah kecenderungan seorang investor untuk menghindari risiko dalam berinvestasi. Investor jenis ini cenderung lebih memilih untuk menjaga keamanan modal mereka dibandingkan meraih potensi keuntungan yang lebih besar namun berisiko.
Investor risk averse biasanya memiliki toleransi yang rendah terhadap risiko. Mereka lebih suka bermain aman dengan memilih instrumen investasi yang sifatnya konservatif, meskipun dengan imbal hasil yang lebih rendah. Contohnya seperti rekening tabungan, obligasi, dan sertifikat deposito.
Hal ini berbanding terbalik dengan investor "risk seeking" yang lebih menyukai instrumen investasi berisiko tinggi, seperti saham dan reksa dana saham, demi meraih keuntungan yang lebih besar. Sementara itu, ada pula investor "risk neutral" yang tidak terlalu mempertimbangkan tingkat risiko, melainkan hanya fokus pada potensi keuntungan terbesar.
Cara Kerja Risk Averse Investing
Pada dasarnya, investor risk averse berusaha untuk meminimalkan risiko kerugian dengan cara memilih instrumen investasi yang konservatif. Beberapa contoh cara kerja investasi risk averse, antara lain:
- Memilih Produk Simpanan Perbankan
Investor risk averse cenderung menyimpan dana mereka dalam bentuk rekening tabungan atau deposito berjangka. Meskipun imbal hasil yang ditawarkan tidak setinggi investasi lain, namun produk-produk simpanan perbankan ini dianggap cenderung aman karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
- Berinvestasi di Obligasi Pemerintah
Selain produk simpanan, investor risk averse juga sering berinvestasi di obligasi pemerintah. Walaupun tingkat pengembaliannya tidak setinggi obligasi korporasi, namun obligasi pemerintah dianggap lebih aman karena didukung oleh jaminan pemerintah.
- Memilih Saham Dividen
Meskipun saham dianggap berisiko, investor risk averse dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di saham-saham perusahaan yang secara rutin membagikan dividen. Dividen yang diterima dapat membantu mengimbangi risiko penurunan harga saham.
- Mendiversifikasi Portofolio
Untuk meminimalkan risiko, investor risk averse biasanya juga menerapkan strategi diversifikasi dengan mengalokasikan dana ke berbagai jenis instrumen investasi yang tidak berkorelasi satu sama lain. Hal ini dilakukan agar kerugian di salah satu instrumen dapat diimbangi oleh keuntungan di instrumen lain.
Contoh Investasi Risk Averse
Berikut ini adalah beberapa contoh investasi yang biasa dipilih oleh investor risk averse:
- Rekening Tabungan
Rekening tabungan pada bank merupakan salah satu pilihan investasi yang aman bagi investor risk averse. Meskipun imbal hasil yang ditawarkan relatif rendah, biasanya hanya sekitar 1-2% per tahun, namun dana yang disimpan dapat diakses kapan saja dan risiko kerugian lebih rendah.
- Sertifikat Deposito (CD)
Sertifikat deposito adalah produk perbankan yang membutuhkan investor untuk menyimpan dana dalam jangka waktu tertentu, misalnya 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Imbal hasil yang ditawarkan sedikit lebih tinggi daripada rekening tabungan, namun investor harus bersedia menanggung risiko pinalti apabila menarik dana sebelum jatuh tempo.
- Obligasi Pemerintah
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah dianggap sebagai investasi yang sangat aman bagi investor risk averse. Meskipun imbal hasil yang ditawarkan tidak setinggi obligasi korporasi, namun investor dapat yakin bahwa pemerintah akan membayar kembali pokok dan bunganya saat jatuh tempo.
- Saham Dividen
Saham-saham perusahaan yang secara rutin membagikan dividen kepada pemegarangnya juga menjadi pilihan investor risk averse. Meskipun saham tetap memiliki risiko fluktuasi harga, namun dividen yang diterima dapat membantu mengimbangi kerugian akibat penurunan harga saham.
- Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana yang berinvestasi di instrumen-instrumen pasar uang seperti sertifikat deposito, commercial paper, dan SBI. Reksa dana jenis ini dianggap aman karena hanya berinvestasi di instrumen yang sangat likuid dan berisiko rendah.
Perbedaan Risk Averse, Risk Seeking, dan Risk Neutral
Selain investor risk averse, ada juga dua tipe investor lain yang perlu diketahui, yaitu:
- Risk Seeking
Investor risk seeking adalah kebalikan dari risk averse. Mereka cenderung mencari instrumen investasi yang berisiko tinggi demi mendapatkan potensi keuntungan yang besar. Contohnya adalah saham dan reksa dana saham.
- Risk Neutral
Investor risk neutral adalah mereka yang tidak terlalu mempertimbangkan tingkat risiko saat berinvestasi. Yang menjadi fokus utama mereka adalah memilih instrumen yang mampu memberikan potensi keuntungan terbesar, tanpa terlalu memikirkan risikonya.
Perbedaan ketiga tipe investor ini terletak pada preferensi mereka terhadap risiko. Investor risk averse berusaha meminimalkan risiko, sementara risk seeking justru mencari instrumen berisiko tinggi. Sementara itu, investor risk neutral cenderung netral dan hanya mementingkan potensi keuntungan terbesar.
Strategi Investasi Risk Averse
Sebagai investor yang menghindari risiko, mereka biasanya menerapkan beberapa strategi investasi berikut:
- Diversifikasi Portofolio
Salah satu cara untuk meminimalkan risiko adalah dengan mendiversifikasi portofolio investasi. Caranya dengan mengalokasikan dana ke berbagai jenis instrumen yang tidak berkorelasi satu sama lain, agar kerugian di satu instrumen dapat diimbangi oleh keuntungan di instrumen lain.
- Income Investing
Strategi income investing berfokus pada memperoleh penghasilan tetap dari investasi, misalnya melalui bunga obligasi atau dividen saham. Strategi ini cocok bagi investor risk averse yang menginginkan arus kas yang stabil, terutama mereka yang sudah memasuki masa pensiun.
- Laddering
Strategi laddering melibatkan pembagian investasi ke dalam berbagai jangka waktu, misalnya 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko suku bunga saat investasi jatuh tempo dan perlu diperbaharui.
- Inflasi-Protected Securities
Investor risk averse juga dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di instrumen yang terlindung dari risiko inflasi, seperti obligasi yang nilai nominalnya disesuaikan dengan laju inflasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan daya beli investasi mereka tetap terjaga.
Kelebihan dan Kekurangan Menjadi Investor Risk Averse
Sama seperti strategi investasi lainnya, menjadi investor risk averse juga memiliki kelebihan dan kekurangan, di antaranya:
Kelebihan Menjadi Investor Risk Averse
- Meminimalkan risiko kerugian
- Dapat memperoleh arus kas yang stabil dan terjamin
- Terhindar dari fluktuasi nilai investasi yang berlebihan
Kekurangan Menjadi Investor Risk Averse
- Potensi imbal hasil yang diperoleh cenderung lebih rendah, terutama dalam jangka panjang
- Berisiko kehilangan peluang investasi yang lebih menguntungkan
- Investasi yang terlalu konservatif dapat mengikis daya beli karena tergerus oleh inflasi
Pada akhirnya, pemilihan strategi investasi yang tepat harus disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan kondisi keuangan masing-masing investor. Bagi investor yang tidak ingin mengambil risiko terlalu besar, strategi investasi risk averse dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.