Indikator Harga

Pembukaan % Perubahan
EURUSD 1.10070 0.03%
GBPUSD 1.29080 0.01%
AUDUSD 0.67700 -0.07%
NZDUSD 0.64170 0.00%
USDJPY 109.500 -0.01%
USDCHF 0.99830 0.03%
USDCAD 1.32800 0.05%
GOLDUD 1455.800 0.06%
COFR 815396 0.71%
USD/IDR 14085 0.09%

Fokus Crude Oil:

      1. China akan mengambil langkah balasan pada AS atas pemberlakuan UU Hong Kong.
      2. Arab Saudi tidak akan bertanggung jawab atas kelebihan pasokan akibat ketidakpatuhan anggota OPEC lain.



Jumat, 29 November 2019 - Di penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak di kisaran harga IDR 813,000 - 824,000 per barel. Memanasnya situasi di Timur Tengah memberikan dukungan pada harga minyak. Namun, tensi AS dan China yang meningkat membuat pasar khawatir kesepakatan dagang akan tertunda lebih lanjut yang memberikan tekanan pada pasar minyak. Selain itu, fokus pasar juga akan tertuju pada pertemuan OPEC+ yang berlangsung pekan depan.
Situasi di Irak kian memanas setelah pasukan keamanan Irak menembak mati setidaknya 45 demonstran pada hari Kamis pasca penyerbuan dan pembakaran konsulat Iran. Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Iran menutup perbatasan Mehran ke Irak pada hari Kamis dengan alasan keamanan.
Menyusul pemberlakuan UU Hong Kong yang disahkan oleh Trump pada hari Rabu, China memperingatkan AS pada hari Kamis bahwa akan mengambil langkah - langkah balasan sebagai tanggapan dari UU AS yang mendukung demonstrasi anti-pemerintah di Hong Kong, dan mengatakan upaya untuk campur tangan di kota yang diperintah China itu pasti akan gagal. Wakil Menteri Luar Negeri China, Le Yucheng, memanggil Duta Besar AS Terry Branstad dan menuntut agar AS segera berhenti mencampuri urusan dalam negeri China. Meningkatnya tensi AS dan China memicu keyakinan bahwa kesepakatan dagang fase pertama akan ditunda lebih lanjut penandatanganannya.
Saat ini pasar fokus menanti berlangsungnya pertemuan OPEC+ pada pekan depan. Perusahaan minyak Rusia mengusulkan untuk tidak mengubah kuota produksi mereka sebagai bagian dari kesepakatan global sampai akhir Maret, menekan OPEC+ untuk menghindari perubahan kebijakan.
Mengutip dari Bloomberg dilaporkan bahwa Pangeran Abdulaziz bin Salman, yang menggantikan Khalid Al-Falih pada bulan September, kemungkinan akan menggunakan pertemuan OPEC pertamanya sebagai menteri perminyakan Saudi minggu depan untuk mengisyaratkan produsen dominan OPEC tidak lagi bersedia untuk mengimbangi kelebihan produksi akibat ketidakpatuhan anggota OPEC lainnya. Arab Saudi menyebutkan Irak, Nigeria, Kazakhstan dan Rusia sebagai anggota yang tidak patuh tersebut.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 835,000 - 850,000 per barel serta kisaran Support di IDR 805,000 - 790,000 per barel.

Data Ekonomi Harian

Jam Data Aktual Ekspektasi Sebelumnya
20:30 CAD - Raw Material Price Index (Oct) - 1.2% 0.0%
20:30 CAD - Industrial Product Price (MoM) (Oct) - 0.0% -0.1%
20:30 CAD - Gross Domestic Product Annualized (QoQ) (Q3) - 1.2% 3.7%
20:30 CAD - Gross Domestic Product (MoM) (Sep) - 0.1% 0.1%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter




ICDX MEMBER