Indikator Harga

Pembukaan % Perubahan
EURUSD 1.12230 0.08%
GBPUSD 1.29550 0.04%
AUDUSD 0.69420 0.14%
NZDUSD 0.65660 0.30%
USDJPY 109.280 0.25%
USDCHF 1.00630 0.02%
USDCAD 1.34750 -0.01%
GOLDUD 1299.860 -0.11%
COFR JUN19 877419 0.41%
USD/IDR 14415 0.17%

Fokus Crude Oil:

      1. Tarif balasan China untuk barang-barang dari AS.
      2. Kapal tanker minyak Arab Saudi diserang di lepas pantai UAE.



Selasa, 14 Mei 2019 - Harga minyak bergerak bullish pada perdagangan sesi pagi ini ditengah memanasnya kembali perang dagang antara AS dan China, terpicu oleh berita diserangnya 2 kapal tanker minyak Arab Saudi di Teluk Oman, lepas pantai Uni Emirat Arab (UAE).
China mengumumkan secara resmi pada Senin (13/5), bahwa akan menaikkan tarif untuk barang-barang AS senilai 60 milyar dolar serta penerapan tarif tambahan senilai 300 milyar dolar untuk barang buatan China. Tarif baru ini akan diberlakukan secara efektif pada 1 Juni mendatang. Tak lama setelah pengumuman tersebut, Kantor Perwakilan Dagang AS juga mengusulkan tarif baru sebesar 25 persen atau senilai 300 milyar dolar untuk 3,800 kategori produk yang belum termasuk dalam daftar barang yang telah dikenakan tarif baru pada Jumat lalu. Namun, tarif ini mengecualikan untuk obat-obatan, beberapa prekursor farmasi, barang medis tertentu, logam tanah jarang dan mineral kritis. Memanasnya perang tarif ini sempat membuat harga minyak terpuruk lebih dari 1 persen pada perdagangan kemarin (13/5).
Akan tetapi kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi katalis positif yang mengangkat harga minyak. Senin (13/5), Menteri Perminyakan Arab Saudi membenarkan bahwa ada 2 kapal tanker milik Arab Saudi yang diserang pada hari Minggu pagi, yang disebut sebagai upaya "sabotase" oleh Arab Saudi. Penyerangan itu terjadi di Teluk Oman, dekat Uni Emirat Arab, tepat ketika tanker siap memasuki perairan Teluk Persia. Berita tentang "sabotase" ini cukup mengejutkan karena berpengaruh pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Berdasarkan survei terbaru Reuters, Arab Saudi dan UAE merupakan produsen terbesar dan ketiga terbesar, di OPEC.
Laporan dari Reuters yang dikutip dari 2 sumber industri menyebutkan produksi minyak Rusia untuk periode 1-12 Mei turun ke angka 11.16 juta barel per hari dari rata-rata sebelumnya bulan April di angka 11.23 juta barel per hari. Sumber tersebut juga menambahkan bahwa pasokan minyak dari Transneft -Jaringan monopoli pipa minyak Rusia- turun sekitar 6 persen menjadi 8.8 juta barel per hari untuk periode 1-12 Mei.
Sementara itu Iran dilaporkan bersikeras untuk mengekspor setidaknya 1.5 juta barel minyak mentah per hari, 3 kali lipat dari level yang diharapkan melalui sanksi AS, sebagai syarat untuk tetap berada dalam kesepakatan nuklir internasional. Dalam upaya AS untuk mengurangi ekspor minyak Iran ke level nol, AS menerapkan sanksi ke Iran yang telah membuat ekspor minyak Iran turun menjadi 1 juta barel per hari atau kurang dari sebelumnya 2.8 juta barel per hari tahun lalu. Ekspor bahkan dapat turun ke level 500,000 barel per hari mulai Mei, menurut seorang pejabat Iran yang dikutip Reuters.
Dari sudut pandang teknis, harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 895,000 - 910,000, jika mendapat katalis negatif harga akan bergerak turun dalam kisaran Support 870,000 - 850,000.

Data Ekonomi Harian

Jam Data Aktual Ekspektasi Sebelumnya
10:00 USA - NFIB Business Optimism Index - 102.3 101.8
12:30 USA - Import Price Index (YoY) - 1% 0%
12:30 USA - Export Price Index (YoY) - 0.6% 0.6%
12:30 USA - Import Price Index (MoM) - 0.7% 0.6%
12:30 USA - Export Price Index (MoM) - 0.5% 0.7%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter




ICDX MEMBER