Indikator Harga

Pembukaan % Perubahan
EURUSD 1.10120 0.06%
GBPUSD 1.29160 -0.02%
AUDUSD 0.67560 0.27%
NZDUSD 0.64180 0.39%
USDJPY 109.520 0.17%
USDCHF 1.00010 0.00%
USDCAD 1.32770 0.04%
GOLDUD 1466.630 -0.50%
COFR 790641 -0.95%
USD/IDR 14100 0.11%

Fokus Crude Oil:

      1. Kesepakatan dagang AS - China mandek akibat UU Hong Kong yang disahkan Trump pekan lalu.
      2. OPEC dan sekutunya akan mempertimbangkan untuk memperdalam pemangkasan produksi.



Senin, 02 Desember 2019 - Setelah ditutup melemah 3 persen pada perdagangan hari Jumat, harga minyak di perdagangan pagi ini terpantau masih tertekan dan bergerak di kisaran harga IDR 776,000 - 790,000 per barel. Pesimisme terhadap kesepakatan dagang AS - China memberikan tekanan pada harga minyak. Meski demikian, pasar masih memantau pertemuan OPEC+ yang akan berlangsung minggu ini untuk melihat arah pasar minyak selanjutnya.
Kesepakatan dagang fase pertama antara AS dan China sekarang stagnan akibat UU Hong Kong, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu. Kementerian Luar Negeri China pada hari Kamis mengatakan bahwa UU yang ditandatangani oleh Trump pada hari Rabu tersebut merupakan gangguan serius dalam mencapai kesepakatan dagang yang sedang diperjuangkan saat ini.
Menteri Perminyakan Irak, Thamer Ghadhban, pada hari Minggu mengatakan bahwa OPEC dan anggota sekutunya akan mempertimbangkan untuk memperdalam penurunan produksi minyak sekitar 400,000 bph menjadi 1.6 juta bph dalam pertemuan di Wina minggu ini. Kesepakatan yang berjalan saat ini adalah pemangkasan produksi sebesar 1.2 juta barel yang akan berakhir pada Maret 2020. Ghadhban menambahkan bahwa Irak selaku produsen minyak terbesar kedua OPEC setelah Arab Saudi telah melampau komitmen pemangkasan 100 persen, dengan tingkat rata-rata ekspor sebesar 3.5 juta bph dan produksi rata-rata 4.62 juta bph di bulan November.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada hari Jumat mengatakan bahwa Rusia lebih memilih untuk menunggu sampai mendekati April sebelum memutuskan apakah akan memperpanjang kesepakatan atau tidak. Pernyataan Novak tersebut memicu kekhawatiran bahwa perpanjangan pemotongan produksi OPEC+ akan mendapat hambatan dari Rusia.
Sementara itu, protes anti-pemerintah di Irak masih berlanjut meskipun Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi mengumumkan pada hari Jumat bahwa ia berencana untuk mengajukan pengunduran dirinya ke parlemen. Para pengunjuk rasa bersikeras agar semua pejabat yang korup harus mundur dari jabatannya.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran Resistance di IDR 805,000 - 825,000 per barel serta kisaran Support di IDR 765,000 - 745,000 per barel.

Data Ekonomi Harian

Jam Data Aktual Ekspektasi Sebelumnya
21:30 CAD - Markit Manufacturing PMI (Nov) - 52.6 51.2
22:00 USA - Markit Manufacturing PMI (Nov) - 52.2 52.2
22:00 USA - ISM Manufacturing PMI (Nov) - 49.4 48.3
22:00 USA - Construction Spending (MoM) (Oct) - 0.3% 0.5%

Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange

Crude Oil Daily Newsletter




ICDX MEMBER