Home
>
News
>
Publication
>
Semua Bisa Jadi Berjangka: Hewan Ternak
Semua Bisa Jadi Berjangka: Hewan Ternak
Friday, 16 July 2021

oleh Btari Nadine

Antisipasi Kenaikan Harga Daging

Kenaikan harga daging sudah menjadi hal yang lumrah menjelang hari-hari besar, seperti Lebaran, tahun baru, dan lain-lain. Menu-menu seperti rendang, opor daging, semur daging, BBQ, dan shabu-shabu selalu identik dengan perayaan-perayaan tersebut. Meski harga daging melonjak, masyarakat tetap merasa ‘harus’ membelinya demi kelengkapan di hari yang spesial. 

Banyak yang menyangka bahwa hanya benda mati yang bisa dikategorikan sebagai komoditas dan dibuat dalam bentuk berjangka. Tahukah Anda, kalau daging (hewan ternak) ternyata juga bisa dijadikan produk berjangka? Mari kita lihat contoh produk live cattle futures (kontrak berjangka hewan ternak) di bursa Chicago Mercantile Exchange (CME).

Manajemen Risiko dengan Kontrak Berjangka untuk Hewan Ternak

Live cattle futures merupakan kontrak berjangka atas hewan ternak (sapi) yang telah terstandardisasi dan diperdagangkan di dalam bursa. Kontrak berjangka hewan ternak yang diperdagangkan di bursa CME misalnya, merepresentasikan pengiriman sapi dewasa yang sudah mencapai berat tertentu, yakni antara 1,200-1,400 pounds.

Live cattle futures muncul pertama kali tahun 1964 dan digunakan oleh peternak maupun perusahaan konsumen untuk manajemen risiko terhadap perubahan harga daging. Selain hedging (lindung nilai), live cattle futures juga punya fungsi lain yaitu untuk price discovery.

Pasar berjangka yang terbuka bagi publik ini memungkinkan traders turut berpartisipasi dalam perdagangan live cattle futures, dimana mereka dapat memanfaatkan keuntungan dari pergerakan harga saja (penyelesaian tunai, bukan penyerahan fisik). Para traders akan menjadikan pasar live cattle futures lebih aktif dan likuid, sebab informasi permintaan dan penawaran di pasar menjadi lebih banyak.

Kontrak Berjangka untuk Hewan Ternak Lainnya

Selain daging sapi, daging lain yang telah diperdagangkan dalam bentuk kontrak berjangka adalah babi. Di bursa CME misalnya, tersedia dua jenis kontrak, yaitu Lean Hogs futures atau kontrak berjangka atas babi, Pork Cutout futures atau kontrak berjangka atas daging babi, serta Pork Cutout options. Sebelum membahas perbedaan keduanya, mari kita simak dulu awal peluncuran kontrak-kontrak tersebut. 

Sejak tahun 2015, semakin banyak perjanjian pembelian babi (hewan utuh) yang menggunakan harga potongan daging babi sebagai harga dasar. Para konsumen pun mengajukan kebutuhan akan kontrak berjangka dan kontrak opsi atas daging babi sebagai sarana manajemen risiko untuk industri hewan ternak babi dan daging babi yang terus berkembang.

Jika indeks Lean Hogs menunjukkan harga atas babi (hewan) di Amerika Serikat, maka indeks Pork Cutout menunjukkan harga atas daging babi (telah dipotong-potong). Potongan-potongan daging babi yang termasuk dalam perhitungan adalah pinggang, pantat, picnic, tulang rusuk, ham, dan perut.

Kedua jenis kontrak tersebut sama-sama memiliki ukuran kontrak atau merepresentasikan 40,000 pon daging babi tanpa lemak. Seekor anak babi dapat tumbuh hingga bobot 250 pon hanya dalam 6 bulan. Seekor babi yang disembelih menghasilkan sekitar 90 pon daging babi tanpa lemak.

Para pembeli maupun produsen (penjual) babi perlu memerhatikan laporan dari U.S. Department of Agriculture (USDA), terutama Hogs and Pigs Report dan Monthly Slaughter Report. Selain itu, faktor fundamental seperti pergerakan harga jagung (pakan utama babi) akan mempengaruhi harga babi. Ketika harga jagung mahal, maka harga HE lebih tinggi.

Menurut Tim Andriesen, CME Group Managing Director of Agricultural Products, "Seiring dengan perkembangan pasar, pelanggan kami terus mencari sarana baru untuk mengelola risiko harga yang terkait dengan produksi babi dan daging babi. Kontrak berjangka dan opsi daging babi (Pork Cutout futures and option) melengkapi kontrak berjangka babi yang telah ada, sehingga pelanggan dapat mengelola risiko dan memperoleh harga dari babi sebagai hewan utuh hingga potongan daging."

Salah satu strategi yang sering digunakan para trader dalam transaksi kontrak atas babi dan daging babi ini adalah spread trading. Strategi ini dilakukan dengan membeli dan menjual kontrak berjangka pada saat yang bersamaan.

Misalnya, kontrak beli 1 Pork Cutout dan kontrak jual 1 Lean Hogs sama dengan posisi "long" spread. Sebaliknya, menjual 1 Pork Cutout dan membeli 1 Lean Hogs akan menjadi “short” spread. Jika spread antara Pork Cutout dan Lean Hogs melebar, posisi long spread akan menguntungkan. Namun, jika spread antara Pork Cutout dan Lean Hogs menyempit, posisi short spread akan menguntungkan. 

Member of
© 2020. Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX)
Join Our Monthly Newsletter
Follow Us
Contact Us
Midpoint Place, 22nd Floor, K.H. Fachrudin Street No. 26, Tanah Abang, Jakarta Pusat
+62 21 3002 7788