PASAR MINYAK DIGUNCANG “ARAMCO EFFECT”


Gambar 1. Drone Kilang Minyak


Menjelang penutupan pekan ke 2 bulan September, pasar minyak global diguncang oleh berita yang cukup mengejutkan, yaitu serangan pesawat tak berawak atau drone pada hari Sabtu (14/9) di sebuah fasilitas pemrosesan minyak daerah Abqaiq dan ladang minyak Khurais, yang keduanya dioperasikan oleh Saudi Aramco, perusahaan produksi minyak milik negara Arab Saudi.

Arab Saudi merupakan salah satu Negara pemasok minyak mentah terbesar di dunia. Berdasarkan laporan dari OPEC, produksi minyak mentah Arab Saudi mencapai 10.3 juta barel per hari, dimana 50% dari total produksi minyak Arab Saudi tersebut berasal dari fasilitas di Abqaiq yang memiliki kapasitas produksi minyak jenis Arab light sebesar 5.7 juta barel per hari.

Sementara untuk minyak jenis Arab light dan Arab extra light dihasilkan dari ladang minyak utama di Ghawar, Shaybah dan Khurais. Ladang minyak Ghawar memiliki kapasitas produksi minyak jenis Arab light sebesar 5.8 juta barel per hari, dan Shaybah memiliki kapasitas produksi minyak jenis Arab extra light sebesar 1 juta barel per hari. Sementara kapasitas produksi ladang minyak Khurais sebesar 1.2 juta barel per hari untuk minyak jenis Arab light.


Gambar 2. Peta Kilang Minyak Attack

(Photo Credit: AP:Associated Press)


Serangan tersebut awalnya diklaim oleh kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran, berada di belakang serangkaian serangan terhadap jaringan pipa, tanker dan infrastruktur lain milik Saudi dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, Seketaris Negara AS, Mike Pompeo meragukan klaim tersebut, sebaliknya Pompeo menuduh Iran di balik serangan terhadap 2 fasilitas minyak milik Aramco. Pemerintah Iran membantah tuduhan AS bahkan menuding AS hanya mencari alasan untuk menyalahkan Iran atas insiden itu.

Imbas Serangan Terhadap Pasar Minyak

Pasca serangan, dua sumber dari bagian operasi perusahaan Aramco pada hari Senin (16/9) mengatakan “pengembalian volume produksi minyak ke kapasitas penuh akan memakan waktu berbulan-bulan." Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan minyak global dan menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam. Mengutip dari Reuters dilaporkan bahwa pada hari Senin (16/9) harga minyak jenis Brent sempat naik hingga 19% ke level USD 71.95 per barel, level tertinggi sejak 14 Januari 1991. Selain itu untuk minyak jenis West Texas Intermediate (WTI), harga sempat naik hingga 15% ke level USD 63.34 per barel, level tertinggi sejak 22 Juni 1998.


Gambar 3. Peta Kilang Minyak

(Photo Credit: AP:Associated Press)


Berdasarkan data yang dihimpun oleh CNN, serangan yang terjadi pada kilang minyak Saudi Aramco menyebabkan penurunan produksi terbesar sepanjang sejarah, yakni sebanyak 5.7 juta barel per hari. Sebelumnya penurunan produksi minyak yang cukup besar pernah beberapa kali terjadi salah satunya adalah karena adanya Revolusi Iran pada tahun 1978 hingga 1979 yang menyebabkan pasokan minyak turun 5.6 juta barel per hari. Selain itu pada tahun 1990, pasokan minyak juga sempat mengalami masalah akibat invasi Irak ke Kuwait, pasokan minyak turun sebanyak 4.3 juta barel per hari dan menyebabkan harga minyak sempat melonjak lebih dari $20 per barel.


Namun, saat konferensi pers di Jeddah pada hari Selasa (17/9), Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan mereka sedang dalam proses untuk mengembalikan penyulingan minyak ke kapasitas penuh dan output minyak Arab Saudi akan kembali beroperasi sepenuhnya dalam waktu 2-3 minggu ke depan, lebih cepat dari yang diperkirakan.


Mengutip dari Reuters, Arab Saudi sudah hampir memulihkan 70% dari 5.7 juta barel per hari yang hilang saat serangan di kilang Saudi Aramco dan berencana untuk mengembalikan kapasitas produksi Arab Saudi hingga mencapai 11 juta barel minyak mentah per hari pada akhir bulan September dan hingga 12 juta barel minyak mentah per hari pada akhir bulan November. Menurut Menteri Energi Saudi, perusahaan Saudi Aramco akan menepati komitmen yang dibuat dengan para pelanggannya untuk pengiriman bulan ini dengan cara menggunakan cadangan minyaknya sambil mencoba untuk mengembalikan ke kapasitas produksi normal.


Pernyataan dari Pangeran Abdulaziz tersebut meredam kekhawatiran pasar dan membuat rebound harga minyak terhenti dan kembali terkoreksi, turun lebih dari 6% hanya dalam waktu sehari dan ditutup di level $59.88 per barel (17/9), setelah sebelumnya harga minyak mentah mengalami lonjakan tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.


Rencana IPO Saudi Aramco

Pada awal tahun ini, Saudi Aramco telah merencanakan untuk mendaftarkan Aramco di pasar saham domestik dan menawarkan 1% kepemilikan pada Saudi Aramco melalui bursa saham lokal sebelum akhir tahun ini dan 1% lagi pada tahun 2020, sebagai langkah pertama target IPO sekitar 5% dari kepemilikan Aramco. Target tersebut tercatat sebagai penawaran umum perdana terbesar di dunia. Sebagai informasi, valuasi Saudi Aramco yang diharapkan mencapai USD 2 trilliun sehingga dengan target IPO sebanyak 1% maka total penjualan perdana saham Saudi Aramco akan bernilai USD 20 miliar.


Namun, serangan di kilang pada Sabtu (14/9) telah menimbulkan kekhawatiran bahwa jadwal IPO akan ditunda. Perdagangan IPO Aramco sangat bergantung pada seberapa cepat fasilitas minyak milik Saudi Aramco dapat kembali beroperasi normal ke kapasitas penuh. Jika produksi minyak Aramco dapat kembali pulih sesuai dengan pernyataan dari Menteri Energi Arab Saudi, maka proses IPO Saudi Aramco di bulan November nanti akan dapat berjalan sesuai rencana.


Dampak IPO Aramco Pada Pasar Minyak

Saudi Aramco hanya akan menawarkan sekitar 5% dari total kepemilikan pada Saudi Aramco, sehingga pemegang saham baru tidak akan dapat merubah strategi perusahaan. Juga dengan IPO-nya Saudi Aramco, akan menjadi tolak ukur bagi para perusahaan produsen minyak lainnya, baik terkait strategi produksi maupun kepatuhan dan transparansi.


Apabila terjadi kenaikan harga minyak, maka akan timbul pertanyaan:
- Akankah Aramco yang diperdagangkan secara publik (terbuka) demi meningkatkan keuntungan dan harga saham Aramco akan memproduksi minyak lebih banyak atau malah lebih sedikit daripada sebelumnya? - Atau akankah ada insentif untuk mendorong OPEC menurunkan produksi secara keseluruhan untuk menaikkan harga minyak yang juga dapat meningkatkan nilai Aramco?


Namun, hasil dari IPO mungkin akan meningkatkan transparansi di Saudi Aramco dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang cadangan minyak Arab Saudi yang lebih aktual. Arab Saudi telah mengendalikan harga minyak selama beberapa dekade, kebanyakan produsen minyak di Arab Saudi pastinya akan mencontoh Saudi Aramco atas upaya transparansi, kepatuhan, dan etika.


Indonesia Melihat Aramco Effect

Arab Saudi memegang kunci yang sangat penting dalam mempengaruhi arah pergerakan harga minyak dunia, terbukti dari “Aramco effect” yang dapat mengangkat harga minyak naik sebesar 15% setelah mengalami tren penurunan sepanjang 4 minggu terakhir. Harga minyak kembali turun sebesar 6% dalam waktu semalam menyusul pernyataan Menteri Energi Saudi bahwa produksi Arab Saudi dapat pulih lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.


Kembali stabilnya harga minyak tentu merupakan berita positif bagi Negara pengimpor minyak khususnya Asia yang memiliki kebutuhan sebanyak 5 juta barel per hari atau setara dengan 72% ekspor minyak Arab Saudi. Indonesia merupakan salah satu Negara pengimpor minyak dari Arab Saudi yang kebutuhannya mencapai 110 ribu barel per hari.


Perkiraan harga minyak mentah Indonesia pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 berada di level USD 70 per barel dan pada Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020 dipatok sebesar US$ 63 per barel. Sehingga menurut Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto, kenaikan harga minyak dunia saat ini masih dalam taraf aman dans tidak akan sampai berdampak pada harga BBM di Indonesia.




ICDX MEMBER