Pajak Ekspor Naik, Pasar Kedelai Terbebani

Oleh : Girta Yoga


Fig 1- Soybean

Di bawah pemerintahan Argentina baru di Desember lalu yang dipimpin oleh Presiden Alberto Fernandez, terjadi peningkatan pajak ekspor kedelai dan produk turunannya dari 30 persen pada bulan Desember menjadi 33% yang berlaku di bulan Maret kemarin. Langkah tersebut diambil oleh Fernandez untuk menyelesaikan krisis utang Negara pada bulan Maret dan spekulasi bahwa peningkatan pajak ekspor komoditas adalah cara tercepat untuk meningkatkan pendapatan negara. Argentina berhutang $100 miliar dalam bentuk utang negara dan lebih dari US $ 50 miliar kepada Dana Moneter Internasional dan akan sangat sulit untuk melunasi utang dengan mata uang lokal yang terdevaluasi.

Pungutan ekspor dengan skala geser ini, disesuaikan dengan ukuran kapasitas dari masing-masing produsen. Peningkatan 3 poin persentase menjadi 33% akan berlaku untuk petani yang memanen lebih dari 1,000 ton kedelai pada tahun panen sebelumnya. Petani yang membawa kurang dari 100 ton pada musim 2018/19 hanya akan membayar 20% pajak ekspor.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan 26% petani Argentina akan terkena retribusi 33% di bawah skema pungutan ekspor itu. Pertanian skala besar tersebut menyumbang 77% dari produksi kedelai Argentina.

Meski dikatakan bahwa skema pungutan ekspor tersebut hanya akan berlaku dalam jangka pendek, namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan tersebut berpotensi menurunkan investasi pertanian yang berdampak pada penurunan produksi Negara tersebut kedepannya.


Efek ke harga kedelai global

Fig 1- Soybean

Argentina saat ini merupakan produsen dan pengekspor kedelai terbesar ketiga di dunia, dan pemasok soybean meal dan soybean oil terbesar dunia.

Komoditi kedelai di Argentina telah menghadapi masalah cuaca karena perpanjangan masa kering sejak akhir Februari di daerah penghasil kedelai utama Buenos Aires dan La Pampa. Buenos Aires Grain Exchange memperkirakan pada musim panen tahun 2019-20 (November - Oktober) produksi kedelai Argentina akan stagnan di angka 54.5 juta ton. Cuaca panas dan kering sendiri berdampak negatif pada produksi kedelai. Tanaman kedelai membutuhkan hujan dan tingkat kelembaban tanah yang cukup selama fase penanaman dan berbunga.

Di samping masalah cuaca tersebut, masalah kenaikan pajak ekspor serta Brasil yang memasuki musim panen membuat kedelai Argentina kian tertekan. Alhasil, banyak petani Argentina yang menjual murah kedelainya sebelum pemberlakuan ekspor tersebut yang ikut menjadi salah satu faktor yang menggiring turun harga kedelai sejak awal tahun disamping pandemi global Covid-19, harga kedelai merosot hingga menyentuh level terendah kuartal I 2020 yaitu di level $8.22 per bushel pada 16 Maret.

Fig 2


Tantangan dan peluang kedelai di tengah pandemic Covid-19

Fig 2


Berlangsungnya pandemi Covid-19 sejak Desember lalu, memberikan dampak yang luar biasa pada pasar komoditi global. Meskipun efek dari kebijakan lockdown yang dilakukan oleh beberapa Negara berdampak pada melambatnya ekonomi global, namun, untuk harga komoditas pertanian sendiri diperkirakan akan tetap stabil karena komoditas ini pada dasarnya kurang sensitif terhadap aktifitas ekonomi.

Worldbank dalam laporan terbarunya memperkirakan harga kedelai masih akan melemah sebesar 5 persen di tahun 2020, sebelum kembali naik 2 persen di tahun 2021. Hal ini disebabkan karena faktor pemulihan efek pandemi Covid-19 secara bertahap yang mempengaruhi permintaan komoditi kedelai yang merupakan sumber pakan ternak terbesar dunia dan sekaligus sumber minyak nabati terbesar kedua dunia.


ICDX MEMBER