Minyak Mentah di Tengah Pandemi Covid-19: Gejolak Pasokan dan Permintaan

Oleh : Muhammad Dzaki Adani


Fig 1- West Texas Intermediate (NYMEX) Crude Oil  - USD

West Texas Intermediate (NYMEX) Crude Oil - USD

Hampir merata di seluruh dunia, dampak negatif dirasakan oleh salah satu krisis kesehatan terburuk dalam satu abad terakhir. Mengacu pada beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan ekonomi global memasuki skenario resesi, menurut sejumlah pengamat, ekonomi global saat ini berada di bawah tekanan terhebat sejak The Great Depression pada 1930-an; bisnis perlahan dan angka pengangguran melonjak. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan perubahan signifikan dalam pola pasokan dan permintaan bahan bakar energi, terutama harga minyak mentah yang telah turun sejak awal tahun 2020 dari sekitar zona $60/barel hingga sempat bergerak di sekitar zona $ 15/barel sebagai akibat dari kontraksi ekonomi yang disebabkan oleh pandemi tersebut. Minyak dan pasar keuangan lainnya juga mencapai tingkat volatilitas yang tinggi sepanjang waktu hingga masa transisi kuartal-i 2020 saat ini.

Dilasir dari U.S. Energy Information Administration (EIA), konsumsi bahan bakar dunia memang telah mulai menunjukkan tren penurunan yang signifikan sejak kuartal-iv 2019, dan kemudian diperparah oleh dampak COVID-19 dan berlanjut hingga kuartal-I 2020 dan diprediksi mencapai titik terdalamnya pada kuartal-ii 2020.

Skema pembatasan mobilitas warga yang berujung pada kebijakan pemberlakuan lockdown hingga saat ini dilaporkan telah dilakukan di 187 negara dan wilayah. Meskipun cakupannya berbeda, sejumlah aktivitas dari berbagai sektor dengan minyak mentah sebagai penggeraknya, seperti di sektor transportasi, manufaktur, dan industri telah turun secara dramatis hampir di semua tempat. Hal ini pun mendorong pernyataan himbauan dari EIA kepada pasar untuk bersiap menghadapi tingkat permintaan minyak terendah dalam 25 tahun terakhir.

Fig 2

Fig. 2

Berdasarkan laporannya, EIA memperkirakan bahwa konsumsi global pada kuartal-I 2020 turun sebesar 5,6 juta barel per hari dibandingkan dengan periode yang sama untuk tahun 2019. Untuk tahun 2020 secara keseluruhan, besarnya penurunan di rentang waktu pertama ini menjadikan landasan EIA untuk memperkirakan bahwa konsumsi minyak global akan turun sebesar 9,3 juta BPD tahun ini menjadi rata-rata 90,5 juta BPD, secara efektif mengoreksi angka pertumbuhan konsumsi yang tercatat selama satu decade terakhir.

Di Tengah Suramnya Proyeksi Permintaan, OPEC + Sulut Isu Geopolitik Minyak.

Di tengah rentang waktu penyebaran COVID-19 yang belum dapat dipastikan puncaknya, harga minyak mentah kembali terpukul oleh isu geopolitik dari munculnya ketegangan besar antara beberapa produsen minyak terbesar di dunia yang menyulut perang harga.

Perang harga dipicu oleh sikap keengganan Rusia yang disampaikan pada kesempatan rapat aliansi OPEC+ untuk terlibat dalam perjanjian mengenai usulan pengurangan produksi minyak guna meredam dampak dari ancaman tingkat permintaan dari pandemi COVID-19. Arab Saudi kemudian mengumumkan potongan harga tak terduga sebesar $ 6 hingga $ 8 per barel untuk konsumennya di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat dengan harapan memberikan tekanan finansial terhadap minyak mentah produksi Rusia yang berkelanjutan menjadi kurang menguntungkan.

Sebagai dampaknya, pada 9 Maret 2020 harga minyak mentah ditutup turun lebih dari 20% dalam satu sesi perdagangan dan tercatat merupakan penurunan tertajam untuk komoditas apapun sejak Perang Teluk 1991. Efek kekhawatiran mendominasi pasar sepanjang hari tersebut dan dampaknya juga terlihat di seluruh pasar global, seperti pasar ekuitas dan pasar keuangan.

Kendati demikian, kabar baik berangsur datang setelah Trump secara tegas melakukan intervensi terhadap keadaan yang terjadi dan mengeluarkan ancaman terhadap pemimpin OPEC, Arab Saudi dengan tarif minyak dan langkah-langkah lain jika tidak memperbaiki masalah kelebihan pasokan pasar. Desakan dari industry minyak dalam negeri AS menjadi latar belakang intervensi Trump tersebut. Perundingan marathon yang berlangsung selama empat hari pada pekan lalu membuahkan kesepakatan yang tercapai oleh seluruh anggota untuk mengurangi produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei-Juni.

Bersamaan dengan kesepakatan tersebut, OPEC + mengatakan berharap produsen di luar grup, seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil dan Norwegia, untuk memotong tingkat produksi di angka 5% atau 5 juta barel per hari. Keputusan ini dianggap bersejarah karena tercatat sebagai pengurangan produksi minyak terbesar yang pernah ada, dan beberapa analis mengharapkan hal ini secara perlahan akan membantu mengembalikan industri minyak dari ancaman jatuh ke dalam situasi yang bahkan lebih serius daripada yang dihadapi saat ini.

Menunggu Kebangkitan Kembali Harga Minyak Mentah Global.


Fig 3

Fig. 3

Para analis memproyeksikan bahwa efek terbesar dari kondisi lockdown sebagai dampak dari penyebaran COVID-19 terkait permintaan minyak mentah global akan terjadi pada kuartal kedua 2020. Setelah itu, secara bertahap mulai pulih sampai di tahun 2021 yang sejalan dengan ekspektasi ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF) karena kembali pulihnya dan normalnya aktivitas bisnis di beberapa sektor seperti transportasi, manufaktur, industri, dan lainnya.

Kesepakatan pengurangan produksi OPEC + pada bulan Mei/Juni mendatang bertujuan untuk mendorong pembatasan atas pasokan minyak mentah global, sehingga dapat memberikan dampak penurunan penumpukan atas stok minyak mentah. Selain itu, aksi inisiatif dari empat negara anggota G20 (Cina, India, Korea, dan Amerika Serikat) yang telah menawarkan kapasitas penyimpanan strategis mereka kepada industri untuk sementara waktu memarkir stok minyak mentah yang belum diinginkan pasar.

Berdasarkan hal tersebut, sejumlah analis masih optimis bahwa kombinasi antara pemotongan produksi minyak mentah oleh anggota negara OPEC + dan inisiasi anggota G20 diharapkan akan memberikan sentimen positif akan harga minyak mentah global hingga paruh kedua tahun 2020. Hingga pada akhirnya, secara jangka menengah, ancaman semakin porak-porandanya struktur pasokan dan permintaan minyak mentah global di pertengahan tahun akan sedikit dapat diredam dan pasar kembali ke kondisi yang lebih normal.

Kesimpulan:

Secara umum, zona pergerakan harga minyak mentah global setelah mengalami penurunan tajam yang terjadi hingga awal kuartal-ii tahun 2020 sebagai dampak dari COVID-19, dan bertahan hingga kuartal kedua sebelum harga mulai meningkat secara bertahap hingga keseimbangan antara struktur pasokan dan permintaan dicapai. Selain itu, dalam proyeksi jangka pendek, pasokan minyak mentah yang akan meningkat sebagai hasil dari penangguhan keputusan pemotongan produksi yang disepakati di antara OPEC + hingga bulan Mei mendatang dapat menjadi acuan para pelaku pasar saat ini. Dengan demikian, kedua faktor ini diprediksi secara mayoritas oleh pasar akan menjaga harga minyak mentah global pada rata-rata terendah hingga paruh pertama tahun 2020. Di tengah ketidakpastian saat ini dan pasar yang diwarnai volatilitas tinggi, maka para pelaku hanya bisa mengharapkan kenaikan landai serta peluang untuk meraih keuntungan dalam fluktuasi harga minyak mentah global dalam trading produk berjangka minyak mentah WTI. Dalam perdagangan minyak bumi periode satu bulan terakhir, kontrak minyak bumi berjangka WTI ditransaksikan dalam rentang harga 17.31 – 29.13 Dollar AS per barel.


ICDX MEMBER