KOMODITAS PERTANIAN GLOBAL DI Q1-2020

Oleh : Girta Yoga


Fig 1- Permintaan Minyak Mentah Dunia


Harga komoditas pertanian mengalami penurunan kecil selama kuartal I 2020 dibanding komoditas energi dan logam. Worldbank memperkirakan untuk harga komoditas pertanian sendiri akan tetap stabil di tahun 2020 karena komoditas ini kurang sensitif terhadap aktifitas ekonomi (dibanding komoditas industri). Selain itu tingkat produksi dan jumlah stok untuk sebagian besar makanan pokok berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Meski demikian, kekhawatiran akan keamanan pangan tetap ada. Beberapa negara telah mengumumkan pembatasan perdagangan sementara seperti larangan ekspor, sementara yang lain mulai menimbun komoditas pangan melalui impor yang dipercepat.

Fig 2


Menurut data terbaru Departemen Pertanian AS (USDA), produksi global dari tiga biji-bijian utama – beras, gandum, dan jagung – diproyeksikan meningkat hampir 1 persen pada musim tanam ini (September 2019 hingga Agustus 2020).

Harga Beras, yang sangat stabil tahun lalu, naik lebih dari 9 persen di kuartal I 2020 (QoQ) atau melonjak sekitar 14 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu (YoY). Adapun kenaikan harga untuk komoditi beras dipicu oleh beberapa produsen gandum Asia Tengah dan produsen beras Asia Timur yang pada fase awal pandemi mengumumkan niat pembatasan ekspor untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan dalam negeri. Selain itu, faktor lain yang ikut mendukung kenaikan harga komoditi beras adalah gangguan produksi karena faktor cuaca di beberapa Negara produsen, termasuk Brasil, China dan Thailand. Harga beras diperkirakan akan naik sebesar 8 persen di tahun 2020, sebelum kembali stabil di tahun 2021.

Harga Gandum, naik hampir 6 persen pada kuartal I 2020 (QoQ) karena beberapa kekhawatiran cuaca di awal kuartal. Namun, membaiknya cuaca terutama di Amerika Utara (Kanada dan AS) dan Asia Tenggara (Kazakhstan, Rusia dan Ukraina) – yang bersama-sama menyumbang 60 persen dari ekspor gandum dunia – membuat produksi gandum global diperkirakan akan mencapai rekor 764 juta ton musim ini, hampir 5 persen lebih tinggi dari panen musim lalu. Untuk konsumsi global diproyeksikan hanya akan tumbuh sekitar 2 persen dari musim lalu, rasio stok terhadap penggunaan akan naik menjadi 0.39, level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Diperkirakan harga gandum masih akan mengalami tekanan di tahun 2020 ini atau turun sebesar 3 persen sebelum kembali stabil di tahun 2021.

Harga Jagung, terlihat mulai merosot di bulan Maret dan awal April. Diperkirakan pasokan jagung global akan jatuh 1 persen pada musim panen tahun ini karena gangguan di AS. Selain itu, konsumsi jagung global juga diperkirakan akan turun karena permintaan yang melemah untuk bahan bakar transportasi, terutama di AS, dimana lebih dari sepertiga dari produksi jagung digunakan untuk produksi etanol. WorldBank memperkirakan harga jagung akan turun 5 persen di tahun 2020 sebelum kembali naik 1 persen di tahun 2021.

Harga Kedelai, terlihat turun tipis sebesar 0.46 persen pada kuartal I 2020. Harga kedelai yang sempat naik di awal Januari sebagai tanggapan atas kesepakatan perdagangan Fase 1 antara AS dan China, di mana China setuju untuk meningkatkan pembelian produk dan layanan AS setidaknya $ 200 miliar selama dua tahun ke depan — termasuk kedelai, kembali turun pasca merebaknya wabah Covid-19 secara global. Harga kedelai diperkirakan masih akan melemah 5 persen di tahun 2020, sebelum kembali naik 2 persen di tahun 2021.

Indeks harga minyak nabati & makanan Worldbank, naik lebih dari 3 persen pada kuartal I 2020 (QoQ), atau meningkat 8 persen lebih tinggi dari tahun lalu (YoY). Kenaikan tertinggi di kuartal I ini terjadi di komoditi minyak sawit (naik 6.5%), minyak inti sawit (naik 5.6%), dan soybean meal atau bungkil kedelai (naik 4.2%). Produksi global dari 17 minyak nabati utama (termasuk kelapa sawit, kedelai dan rapeseed, yang bersama-sama menyumbang dua pertiga dari output global) diperkirakan akan meningkat hampir 1 persen pada musim panen tahun ini (berakhir September 2020).

Namun, WorldBank juga memperkiran terjadinya potensi penurunan permintaan minyak nabati yang dijadikan biofuel akibat pembatasan perjalanan dan kecepatan pemulihan ekonomi pasca pandemic Covid-19. Hal ini disebabkan karena lebih dari 80 persen produksi biofuel global berasal dari etanol berbasis jagung di Amerika Serikat, biodiesel berbasis minyak nabati di Uni Eropa, dan etanol berbasis tebu di Brasil. Sehingga, ketiga komoditas ini mungkin akan mengalami tekanan harga lebih lanjut.

Harga Kopi, jenis Arabika naik tipis sebesar 0.25 persen pada kuartal I 2020 (QoQ), didukung oleh gangguan cuaca (hujan lebat) dan pembatasan tenaga kerja terkait pandemi di Brasil, pemasok kopi terbesar di dunia dan produsen Arabika yang dominan - outputnya selama 2019-20 diperkirakan 38 juta kantong, turun dari musim lalu 47.5 juta tas. Sebaliknya, harga Robusta turun lebih dari 4 persen pada kuartal tersebut (QoQ), sebagian besar sebagai respons atas melonjaknya ekspor dari Vietnam, pemasok kopi terbesar kedua di dunia. Harga Arabika dan Robusta masing-masing diperkirakan akan turun 3 dan 8 persen, pada tahun 2020 sebelum pulih secara moderat pada tahun 2021.

Harga Kakao, naik hampir 4 persen selama kuartal I 2020 (QoQ). Namun, di bulan Maret terlihat turun tajam hampir 14 persen secara MoM, dibebani oleh beberapa tantangan pada bulan Maret karena kekhawatiran permintaan terkait dengan Covid-19. Selain itu, panen besar di Pantai Gading, pemasok kakao terbesar di dunia, telah menekan harga. Produksi kakao global diperkirakan tumbuh 2 persen pada 2019-20 sementara permintaan diproyeksikan menyusut lebih dari 4 persen. Harga kakao diproyeksikan turun 4 persen pada tahun 2020 dan melihat kenaikan moderat 2 persen pada tahun 2021.

Harga Teh, turun 9 persen di kuartal I 2020 (QoQ), penurunan ini antara lain dipicu oleh pasokan yang cukup di Kenya, gangguan pengiriman teh ke berbagai negara pengimpor, permintaan mengecewakan termasuk penguncian di India. Harga teh (rata-rata lelang) diperkirakan turun 10 persen pada tahun 2020, sebagian besar karena permintaan yang lemah sebelum naik 3 persen pada tahun 2021.

Harga Kapas, pada kuartal I turun tipis sebesar 0.41 persen secara QoQ, namun penurunan cukup tajam lebih dari 11 persen terjadi di bulan Maret secara MoM, antara lain disebabkan oleh ekspektasi penurunan permintaan dan meningkatnya stok yang terjadi akibat dari langkah-langkah mitigasi pandemic Covid-19. Produksi kapas global diperkirakan akan mencapai 25.9 juta ton selama musim 2019-20, sedikit lebih tinggi dari 25.7 juta ton musim lalu. Namun, konsumsi diproyeksikan pada 24.6 juta ton, lebih dari 5 persen lebih rendah dari tingkat tahun lalu, dan stok global diperkirakan akan meningkat 7 persen. Harga diproyeksikan rata-rata hampir 10 persen lebih rendah pada 2020 dibandingkan dengan 2019 sebelum naik sedikit pada 2021.

Harga Karet Alam, yang meningkat sekitar 3 persen pada kuartal I 2020, mulai mengalami kerugian besar di bulan Maret, karena langkah-langkah mitigasi untuk menahan penyebaran pandemi COVID-19 mengurangi transportasi. Banyak fasilitas manufaktur ban ditutup sementara di seluruh dunia, terutama di Eropa, dan lebih dari dua pertiga pasokan karet alam digunakan untuk pembuatan ban. Produksi karet alam menurun secara substansial selama kuartal pertama 2020, karena lemahnya permintaan dan kondisi cuaca buruk di negara-negara produsen utama, termasuk kekeringan di Thailand. Ekspor karet alam oleh empat produsen Asia Timur (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam) turun hampir 5 persen dibandingkan tahun lalu — negara-negara ini menyumbang lebih dari 80 persen pasokan karet alam global. Harga karet alam diperkirakan akan tetap stabil di sekitar level saat ini tahun ini, tetapi ada risiko penurunan yang cukup besar jika kebijakan lockdown saat ini berlanjut lebih lama dari yang diharapkan.


ICDX MEMBER