Indonesia Darurat Korona, Rupiah Tersungkur

Oleh : Nikolas Prasetia


Rupiah diperdagangkan di level terlemahnya dalam 2 dekade terakhir dan mendekati level terendah sejak tahun 1998 hari ini. Merujuk pada kurs yang dirilis oleh Bank Indonesia, siang ini (19/Maret) kurs jual Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat berada di level Rp15.790. Dengan sejumlah Bank Pemerintah dan Swasta nasional mematok kurs jual Rupiah dikisaran Rp16.000 per Dolar Amerika Serikat

Gambar 1-Kurs Transaksi USD-Rupiah

Sumber: Bank Indonesia

Pelemahan Dolar Amerika Serikat ini dimulai sehari sebelum pemerintah melalui BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menetapkan Indonesia dalam masa darurat bencana wabah penyakit pada tanggal 29 Februari 2020 lalu. Darurat bencana ini akan terus berlaku hingga 29 Mei 2020. Terkait virus korona sendiri, atau dengan nama resmi COVID-19, hingga hari ini di Indonesia telah mencatatkan jumlah pasien yang positif sebanyak 227 kasus dengan 19 orang diantaranya dinyatakan meninggal.

Paket Stimulus Dunia

Gambar 2-COVID-19 di indonesia

Sumber: @kawalcovid19

Untuk meredam dampak COVID-19 terhadap ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan Indonesia pun tidak tinggal diam dan mengeluarkan paket stimulus, diantaranya adalah dengan merelaksasi Pajak Penghasilan (Pasal 21, 22, dan 25) dan Pajak Pertambahan Nilai, serta malalui stimulus sektor keuangan, yakni dengan pembiayaan tanpa melihat plafon kredit atau jenis debitur, termasuk untuk debitur UMKM. Langkah tersebut diharapkan akan dapat meminimalisir efek COVID-19 terhadap ekonomi Indonesia. Selain Menteri Keuangan, Bank Indonesia juga memangkas suku bunganya sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5%. Langkah-langkah tersebut pun turut berdampak pada kurs tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Selain faktor stimulus internal yang membuat Rupiah terpuruk ke level terlemahnya, faktor eksternal dari penguatan Dolar AS juga turut mengambil andil dalam pelemahan Rupiah. Penguatan Dolar AS terjadi di tengah Negara-negara besar lain di dunia turut menggelontorkan stimulus untuk meredam efek COVID-19 yang juga membuat mata uangnya mengalami pelemahan terhadap Dolar AS. Oleh langkah serentak bank sentral dunia, mata uang Amerika Serikat justru mengalami penguatan, walau di internal AS sendiri juga tengah menghadapi masalah yang sama seperti negara-negara lainnya dan bank sentralnya, juga ikut menstimulasi ekonominya dengan nominal fantastis ke pasar finansialnya.



ICDX MEMBER