INDONESIA DAN MALAYSIA BEREBUT PASAR SAWIT INDIA

Oleh : Dominick Tjokrosetio


India adalah Negara yang sangat berpengaruh terhadap pasar sawit global karena merupakan Negara konsumen produk sawit terbesar di dunia. 95% minyak sawit di India digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sisanya digunakan untuk kebutuhan industri non-pangan. Total produksi India hanya mampu memenuhi 25% konsumsi domestik, sehingga India harus bergantung pada impor terutama dari Indonesia dan Malaysia. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2009 - 2018), India mengimpor rata-rata 7.7 juta ton per tahunnya. Jumlah itu didominasi produk dari Indonesia sebesar 74 persen, Malaysia dengan 17 persen, dan sisanya dari 9 persen dari negara-negara lainnya.

Gambar 1. Outlook Pasar Sawit

Gambar 1. Outlook Pasar Sawit


2019: Malaysia Salip Indonesia

Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki perjanjian kerjasama AIFTA (Asean India Free Trade Agreement), dimana berdasarkan AIFTA, India memberlakukan bea masuk untuk produk CPO dari 44% menjadi 40%, sementara untuk produk turunannya diturunkan dari 54% menjadi 50% yang berlaku per 1 Januari 2019 bagi Indonesia dan Malaysia.

Namun, Malaysia memiliki perjanjian kerjasama tambahan dengan India yaitu IMCECA (India Malaysia Comprehensive Economic Cooperation Agreement). Melalui perjanjian ini, Malaysia diberikan pengurangan bea masuk untuk produk turunan CPO yang semula 50% menjadi 45%.

Gambar 2. Tarif Impor Sawit Indo vs Malay

Gambar 2. Tarif Impor Sawit Indo vs Malay


Tarif Malaysia yang lebih rendah dari Indonesia inilah yang membuat Malaysia menggenjot ekspor secara besar-besaran ke India yang dimulai sejak awal tahun ini. Ekspor sawit Malaysia ke India meningkat tajam sebesar 117% menjadi 3.6 juta ton pada periode Januari – Agustus 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor sawit Indonesia ke India untuk periode yang sama turun 28% menjadi 2.8 juta ton.


Gambar 3. Harga dan Vol CPO ke India

Gambar 3. Harga dan Vol CPO ke India


September 2019: India Bersitegang dengan Malaysia

Tensi antara India dengan Malaysia sempat memanas setelah Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad melontarkan pernyataan di Sidang Umum PBB pada September, di mana Mahathir mengatakan India telah menyerbu dan menduduki Jammu dan Kashmir.

Komentar Mahathir tersebut menyusul aksi Pemerintah nasionalis Hindu pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang mencabut status khusus atas Kashmir pada 5 Agustus, dan memberlakukan sejumlah pembatasan.


Gambar 4. Demonstrasi Kashmir

Gambar 4. Demonstrasi Kashmir


Atas meningkatnya tensi antara Malaysia dan India, Badan perdagangan minyak nabati India pada Senin (20/10) meminta anggotanya untuk berhenti membeli minyak sawit Malaysia. Beberapa pedagang India juga mengatakan telah berhenti membeli minyak sawit Malaysia untuk pengiriman pada bulan November dan Desember, karena khawatir akan adanya pengenaan pajak impor yang lebih tinggi atau tindakan lain dari pemerintah India.


Menurut data pemerintah India, ekspor Malaysia ke India pada 2018 untuk minyak sawit dan produk-produk berbasis kelapa sawit sebesar US$ 1.63 miliar. Dan pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2019, total ekspor Malaysia ke India sebesar US$ 10.8 miliar dan impor mencapai US$ 6.4 miliar.


Pemerintah India telah menegur Malaysia atas sikapnya yang menolak mencabut pernyataan terkait Kashmir, tetapi belum memberikan komentar terkait apakah akan mengambil langkah tertentu dalam bidang perdagangan. Kementerian Perdagangan India menolak memberikan komentar. Sementara Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan Malaysia akan mencari solusi diplomatik jika India membatasi impor beberapa produk dari negaranya.


Pada September, India pada akhirnya menaikkan bea masuk produk turunan CPO dari Malaysia dari 45% menjadi 50%. Hal itu membuat besaran bea masuk CPO dan produk turunannya dari Indonesia dan Malaysia menjadi setara.


Sebagai imbasnya, ekspor sawit dari Indonesia ke India meningkat sebesar 51% menjadi 481 ribu ton di bulan September. Sebaliknya ekspor CPO dari Malaysia ke India turun 44% menjadi 310 ribu ton di bulan September, dan kembali turun sebesar 29% menjadi 220 ribu ton di bulan Oktober.


Kondisi Saat Ini dan Perkiraan Mendatang

Mengutip dari Reuters (14/11), perusahaan penyulingan India telah kembali membeli minyak kelapa sawit Malaysia dan telah mengontrak sekitar 70,000 ton sawit untuk pengiriman pada bulan Desember.


Menurut lima pedagang yang diwawancarai secara eksklusif oleh Reuters, diketahui bahwa India tergiur untuk meningkatkan pembelian setelah Malaysia menawarkan diskon sebesar US$ 5 per ton. Harga kontrak CPO Malaysia untuk pengiriman bulan Desember terpantau sebesar US$ 603 per ton pada hari Kamis (14/11), sementara untuk CPO Indonesia sebesar US$ 608 per ton.


Gambar 5. Biodiesel

Gambar 5. Biodiesel


Pada 2020 mendatang, harga sawit diprediksi akan meningkat karena output minyak sawit Indonesia dan Malaysia diperkirakan turun di tahun 2020 akibat kekeringan yang melanda kawasan Asia Tenggara menyebabkan penurunan produktivitas sawit. Sementara untuk permintaan CPO domestik di Indonesia dan Malaysia diprediksi akan naik karena adanya program mandatori biodiesel B20 di Malaysia dan B30 di Indonesia. Pemerintah India juga berencana merilis kebijakan biofuel dengan target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran solar untuk biodiesel pada 2030.


Ekspor sawit Indonesia ke India diperkirakan juga akan mengalami peningkatan, mengingat India akan menurunkan tarif masuk CPO Indonesia dari 40% menjadi 37.5% dan produk turunannya dari 50% menjadi 45% per Desember nanti.




ICDX MEMBER