Brexit: Penantian Panjang Menuju Kebebasan

Oleh : Dominick Tjokrosetio


Di pertengahan tahun 2016, Brexit menjadi istilah yang sangat populer dan menjadi fokus utama yang dipantau baik di pasar keuangan, pasar saham maupun pasar komoditi. Britain Exit atau yang lebih dikenal dengan Brexit merujuk pada pergerakan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa. Istilah ini terinspirasi dari kasus pada tahun 2002 lalu dimana Yunani memiliki wacana untuk meninggalkan Uni Eropa, yang dikenal sebagai Greek Exit atau Grexit.

Sejarah Brexit

Proses Brexit pernah hampir terjadi 44 tahun yang lalu, yakni di tahun 1975 saat berlangsungnya Referendum EU yang sekaligus merupakan referendum nasional yang pertama di Inggris. Perdana Menteri Inggris pada saat itu, Harold Wilson, bertanya kepada publik apakah Inggris harus tetap di Masyarakat Ekonomi Eropa atau keluar. Berdasarkan hal tersebut, kemudian publik di Inggris mulai terpecah antara dua kubu yaitu tetap tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa atau malah memisahkan diri. Perpecahan yang paling nyata terlihat dari Partai Buruh yang mengalami perpecahan secara internal antara dua kubu tersebut.

Gambar 2 - Vote Referendum

Gambar 2 - Vote Referendum


Mengapa Inggris Ingin Keluar dari Uni Eropa?

Uni-Eropa dibentuk atas inisiasi dari enam Negara yaitu Belgia, Jerman, Perancis, Italia, Luxembourg dan Belanda. Sampai saat ini tercatat ada 27 negara yang bergabung di Uni-Eropa, disamping Inggris yang mengajukan pengunduran diri. Inggris sendiri bergabung dengan Uni-Eropa pada Januari 1973.


Gambar 3 - EU Budget

Gambar 3 - EU Budget


Namun, pertumbuhan perekonomian Inggris yang tergolong lebih baik dibandingkan dengan Negara-negara di zona Eropa, terutama dalam hal rendahnya tingkat pengangguran dan pertumbuhan pekerjaan, telah memicu ketidakpuasan bahwa Inggris terus terbebani oleh Negara-negara Eropa yang mengalami krisis – hal-hal tersebut telah menjadi faktor-faktor yang mendorong Inggris untuk berpisah dari Uni-Eropa. Pada tahun 2017, Inggris tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar terhadap anggaran Uni-Eropa dan di sisi lain Yunani menjadi salah satu penerima anggaran terbesar dimana pada tahun 2015 Yunani tercatat sebagai penerima dana talangan. Namun demikian, berdasarkan data yang dihimpun oleh BBC, sepanjang sejarah Inggris tercatat hanya menyumbangkan dana sekitar € 6 miliar untuk Irlandia pada November 2010 dan untuk Portugal pada May 2011.

Faktor lain yang juga menjadi pemicu diadakannya referendum Brexit adalah bangkitnya Partai Kebebasan Inggris (UK Independence Party - UKIP) yang dipicu oleh kekhawatiran atas imigrasi yang “tidak terkendali” dan David Cameron yang ingin memenangkan pemilu pada tahun 2015 dan mengangkat isu Brexit untuk mendulang suara. Akhirnya pada tanggal 23 Juni 2016 referendum Brexit diberlangsungkan dengan hasil 52% suara memilih Inggris meninggalkan Uni-Eropa.



Skenario Brexit: Hard Brexit atau Soft Brexit?

Pada 29 Maret 2017, Perdana Menteri Theresa May mengajukan notifikasi pemberitahuan “Article 50” (proses resmi pengunduran diri sebagai anggota Uni-Eropa)¹, yang berarti Inggris dan Uni Eropa memiliki batas waktu sampai dengan 29 Maret 2019 untuk melakukan negosiasi. Namun, sampai Theresa May mengumumkan pengunduran diri sebagai Perdana Menteri pada Mei 2019, tenggat waktu Brexit telah beberapa kali mengalami penundaan.

Gambar 4 - Brexit 2016 Result

Gambar 4 - Brexit 2016 Result


Penjelasan Article 50 – Kesepakatan Lisbon menjadi hukum pada tanggal Desember 2009, delapan tahun setelah para pemimpin Eropa meluncurkan proses untuk membuat Uni-Eropa “lebih demokratis, lebih transparen dan lebih efisien”. Ini adalah kesepakatan yang ditandatangani oleh para kelapa negara dan pemerintah negara-negara yang merupakan bagian dari Uni-Eropa. Bagian dari undang-undang itu adalah Article 50, sebuah proses hukum yang digunakan oleh negara-negara yang ingin meninggalkan Uni-Eropa.

Boris Johnson secara resmi menempati posisi Perdana Menteri menggantikan Theresa May pada bulan Juli 2019. Awalnya Johnson menargetkan tanggal 31 Oktober 2019 sebagai tanggal resmi Brexit, sebelum diperpanjang tenggat waktunya atas permintaan dari Inggris.

Menurut seorang diplomat, Perancis menekan 26 negara Uni-Eropa lainnya agar tenggat waktu dapat ditunda hingga 15 atau 30 November 2019, dengan alasan untuk memberikan waktu sekaligus menekan parlemen Inggris agar menyetujui kesepakatan Johnson dengan Uni-Eropa (Soft Brexit) atau tanpa kesepakatan sama sekali (Hard Brexit).


Gambar 5 - May & Johnson


Kendala utama dalam memutuskan kesepakatan Brexit bagi kebanyakan anggota Parlemen Konservatif dan DUP (sekutu pemerintah di Parlemen) adalah proposal “Irish Backstop”. Proposal ini merupakan bagian dari rancangan kesepakatan Brexit yang dinegosiasikan pada masa kepemimpinan Theresa May, dimana proposal tersebut dirancang untuk memastikan tidak akan ada pos perbatasan atau penghalang antara Irlandia Utara dan Republik Irlandia setelah Brexit terjadi. Berdasarkan proposal ini, seluruh Inggris akan memasuki “wilayah pabean tunggal” dengan Uni-Eropa. Pada dasarnya, tarif perdagangan barang antara Inggris dan Uni-Eropa ditiadakan dan beberapa pembatasan dagang akan dihapus. Namun, Irlandia Utara akan tetap tunduk pada beberapa aturan Uni-Eropa tambahan untuk memastikan perbatasan Irlandia akan tetap terbuka seperti saat ini. Peraturan terpisah untuk Irlandia ini akan menyebabkan beberapa pemeriksaan pada barang yang masuk ke Irlandia Utara dari Inggris.

Dalam situasi Hard Brexit, Inggris akan menyerahkan keanggotan pasar tunggal Uni-Eropa, sebuah pengaturan yang memperbolehkan suatu negara untuk berdagang secara bebas dengan mitra-mitra Eropanya tanpa batasan tarif. Jika Inggris memutuskan untuk meninggalkan pabean serikat Uni-Eropa, barang-barang impor akan menjadi jauh lebih mahal, yang tentunya akan mempengaruhi pengeluaran konsumsi dan membebani perusahaan yang bergantung pada produk asal Eropa.

Gambar 6 - UK Products Comes From

Gambar 6 - UK Products Comes From


Sementara, untuk Soft Brexit, posisi Inggris akan setara dengan Uni-Eropa karena mempertahankan beberapa bentuk pasar tunggal. Meskipun pada situasi ini, gangguan pada perdagangan, rantai pasokan, dan bisnis akan diminimalisir. Namun, jika Inggris tetap di pasar tunggal, Uni-Eropa telah meminta bahwa akses ke pasar tunggal hanya dapat diberikan jika Inggris tunduk pada semua prinsip Uni-Eropa, termasuk kebebasan untuk keluar masuk Inggris bagi warga Uni-Eropa.

Dampak Brexit Pada Perekonomian Global

Dalam beberapa tahun terakhir, para pengamat dan ekonom lebih terfokus pada politik dibanding data ekonomi. Mereka menyetujui adanya peningkatan kekhawatiran bahwa Brexit akan mempengaruhi ekonomi Inggris dalam jangka panjang dengan skenario Hard Brexit terlihat peningkatan dalam harga baik untuk produk impor dan ekspor. Hal ini akan membatasi pengeluaran konsumen dan melemahkan sektor investasi, bisnis, dan ekonomi Inggris yang dapat memicu penurunan suku bunga dan juga mempengaruhi pelemahan mata uang GBP.

Pengaruh Brexit pada mata uang GBP dapat dilihat setelah Referendum Brexit pada tanggal 23 Juni 2016, pasangan mata uang GBPUSD tejadi penurunan tajam. Pakar mata uang berpendapat bahwa Soft Brexit dapat memberikan dorongan bagi perekonomian dengan memberikan kepercayaan dan kepastian kepada perusahaan dan konsumen terutama dalam hal pengeluaran konsumsi ataupun membuka lebih banyak lowongan kerja.


Gambar 7 - Brexit gbpusd

Gambar 7 - Brexit gbpusd


Masa transisi Inggris setelah Brexit juga diperkirakan akan membuat negara terjerat krisis. Hal ini tentunya memicu kekhawatiran terutama bagi perusahaan yang memiliki basis operasional di Inggris. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika saat ini semakin banyak perusahaan yang meninggalkan dan berencana meninggalkan Inggris, mengalihkan operasinya ke negara lain.


Mengutip laporan Daily Caller banyak perusahaan Inggris pindah ke Belanda karena ancaman ekonomi akibat Brexit. Menurut Badan Investasi Asing Belanda (NFIA), sebanyak 325 perusahaan lain juga sedang mempertimbangkan pindah dari Inggris karena takut kehilangan akses ke pasar Eropa.


Sementara berdasarkan survey yang dilakukan oleh EY, Brexit telah membuat Bank dan perusahaan keuangan lainnya memindahkan dana senilai 1 triliun dollar AS, keluar dari negara tersebut dan masuk ke negara Uni Eropa lainnya. Beberapa bank mulai mendirikan kantor lain di Uni Eropa untuk mengamankan pengoperasian kantor regional mereka setelah Brexit terjadi, yang berarti mereka juga harus memindahkan aset dalam jumlah besar untuk memenuhi persyaratan regulator Uni Eropa. EY melaporkan sebanyak 222 perusahaan jasa keuangan terbesar di Inggris telah memindahkan asetnya sejak Juni 2016 lalu.




ICDX MEMBER